Tertarik melakukan perjalanan dengan on road dari Jakarta ke Bandung, total 158km. Bisa melalui jalur ini, dan sudah dicoba pada awal Februari 2011 kemarin. Ada 2 tanjakan terberat, pertama di area Cikalong mendaki 3km dari ketinggian 200 sampai 700m. Ditengah perjalanan dan paling panjang mendekati kota Bandung yaitu Cipatat. Benar benar panjang dan menanjak pada kilometer 118 sepanjang 16km full pret tanjakan dari ketinggian 300 meter ke 600 meter

Dibawah ini cerita perjalanan Jakarta Bandung dengan sepeda.

Keinginan touring ke bandung itu dipicu tahun lalu setelah hari  Lebaran oleh om Fajar, saya dan Tiko panggil sebagai "coach" karena emang dia senior banget di sepedahan. Target awalnya adalah di akhir Desember 2010, setelah tertunda sebulan lebih, akhirnya tanggal 5 Feb kemarin kita bulatkan tekad untuk berangkat, maklum saya baru main sepeda dari Juni 2010 tapi sudah langsung di gembleng ama "coach" tiap minggu untuk meningkatkan kemampuan gowes.

Butuh 2 minggu untuk melakukan persiapan sepeda (tidak fulltime karena emang nyambi kerja dll), contohnya om Tiko baru dapet Giant Trance X dan bertekad touring pake sepeda itu, om Fajar juga baru dapet Van Nicholas Titan sehingga perlu rubah konfigurasi menjadi touring bike dengan memasang rigid fork dan pannier rack. Sampe Sabtu jam 01:00 dini hari juga masih setting sepeda om Tiko di rumah walau jam 5.30 sudah start rencananya. Alhasil tidur cuma 3 jam lebih.

Rencana berangkat jam 5.30 molor karena emang badan masih pengen tidur. Kita semua kumpul di Jl.Bangka Jaksel sekitar jam 6 pagi. Akhirnya setelah sarapan pagi seadanya jam 7 dan berangkat ke Cibubur via Ampera dan Cijantung.

Jam 10 (setelah 44 km dan 3 jam 19 menit dari start) stop lama pertama adalah di ruko Citra Indah makan bubur dan rasanya enak banget (pokoknya diseluruh perjalanan, tempat makan ini paling enak, mungkin lapar setelah genjot). Sampai titik ini saya mencoba disiplin untuk tidak melampaui 140 detak jantung per menit atau cadence (rpm kayuh) max 75.

Jam 13.30 (setelah 72.6 km dan 6 jam 19 menit dari start) stop istirahat kedua di Indomaret di kaki bukit Cikalong Kulon (tanjakan jahanam sebutannya om miko) sekalian isi ulang perbekalan minuman. Setelah istirahat sekitar 30 menit, perjalanan menanjak pun dilakukan. Sampai titik ini kami benar2 diberkahi dengan cuaca berawan dan lebih teduh. Saya menargetkan pace max 160 detak jantung per menit dan cadence sekitar 60 dalam menghadapi tanjakan dan menjaga stamina.

Jam 15.30 (setelah 81.7 km dan 8 jam 16 menit dari start) kami berhenti dipuncak pendakian tanjakan Cikalong Lulon pas di warung nasi pertama sebelah kiri yang masakannya lezat banget. Setelah berhenti sekitar sejam dan solat Zuhur dan Ashar, kami melanjutkan perjalanan yang masih tersisa sekitar 80 km lagi. hari sudah menjelang sore dan kami mentargetkan untuk mencapai jembatan Rajamandala sebelum gelap. Alhamdulilah tercapai walau persis sebelum gelap (116 km dan 11 jam 17 menit dari start). Tidak jauh sekitar 2 km kami berhenti di sebuah resto sunda untuk solat maghrib dan isha dan makan (lagiiii....???). sampai titik ini belum ada teringat duka perjalanan, semuanya lancar dan nyaman

Mendekati malam kita meneruskan perjalanan dengan perut kenyang dan ngantuk. Karena sudah gelap, semua lampu depan belakang menyala dan jalannya beriringan cukup dekat antara kami bertiga agar supaya lebih mudah terlihat oleh kendaraan yang lalu lalang. Trafik jalan raya Cipatat cukup padat pada malam minggu itu. Tanpa terasa jalan menuju Padalarang adalah jalan menanjak sejauh 15 km yang disertai tikungan jalan di 9 km terakhir lalu jalan lurus menurun menuju Padalarang. Karena sudah mulai mengantuk, rasanya pengen cepat2 sampai mencari tempat tidur, disini mulai muncul halunisasi seperti bisikan di kepala seperti "duuuhhh kok ni jalan ga ada abis2nya ya".... atau "nah di tikungan depan udah abis dan segala macam perasaan berat mulai menganggu di kepala.

Setiap kali melintas ada perasaan aneh "duuhh kapan brentinya ya.... gengsi gw minta brenti... kan baru aja istirahat... dst...dst".... om Fajar dari belakang udah mulai bicara keras2. "ayo minum coklat anget.... ayo makan martabak.... ayo ngebandrek"....wah" semangat lagi karena membayangkan makan enak.

Pada saat itu mulai terasa gigi-gigi sepeda mulai pindah pindah sendiri yang menyebabkan gowes kurang nyaman, hal tersebut disertai dengan bunyi "tiiiinnggg" di salah satu chainring dan dengan polosnya bertanya2 kepada om Tiko dan om Fajar " ini apa sih yang bunyi dekat crank?" . Saking sering pindah gigi sepeda sendirinya sampai jengkel dan terlintas pemikiran untuk menjual grupset SLX begitu sampai di Bandung.

Untuk om Fajar ngasih kode untuk berhenti untuk membeli minuman. pada saat brenti tersebut om Tiko & om Fajar menemukan sebab bunyi2. Ternyata salah satu mata rantai sudah keluar dari pinnya "nyaris putus". Langsung om Fajar mereparasi dengan mencopot 2 mata rantai dan menyambungkannya kembali. Perjalanan dilanjutkan setelah perbaikan selama 30 menit. Tdak lama kemudian kami sudah dipuncak tanjakan Cipatat yang berarti jalan ke depannya menurun. Rasanya plooooooong banget ketemu turunan .

Ternyata kesenangan karena turunan tidak berlangsung lama karena setelah Padalarang, jalan menanjak landai sampai di Cimahi Tengah dimana ketinggian 765 meter dari Start. kemudian terdengar kembali om Fajar berteriak2 untuk  mencari makanan yang akhirnya kami berhenti di bubur kacang ijo madura. Ketika itu kami sudah gowes selama 15 jam 30 menit atau sejauh 142 km.

Selepas ngebubur, jalan sudah menurun sampai di Bandung, udara sejuk mengharuskan saya menggunakan jaket. Perjalanan berakhir di restoran Sari Bundo Bandung

Kalau ditanya gimana rasanya.... jawabannya cuma satu.... "kapok"... tapi begitu sudah menyantap soto padang di sari bundo .... malah terpikir kepingin lagi suatu hari bisa gowes Bandung ke Jakarta via Puncak

Statistik jalanan adalah:

Total jarak 159.4 km
Total waktu kayuh 10 jam 49 menit
Total waktu istirahat 5 jam 50 menit
Total waktu 16 jam 39 menit
Kecepatan rata rata 15.1 km/jam