Mountain Bike News, Mountain Bike Review, Travel and Adventure Goesbike.com Media - http://www.goesbike.com
Rawa Danau Serang
http://www.goesbike.com/articles/1066/1/Rawa-Danau-Serang/Page1.html
Henry Pangemanan

 
By Henry Pangemanan
Published on 8 February 2011
 
Kawasan ini terletak 15 km disebelah barat kota Serang atau 130 km di sebelah barat kota Jakarta, dan dapat dicapai dengan transportasi darat melalui Padarincang. Rawa Danau (dikenal juga dengan nama Ranca Danau) terdiri dari danau air tawar dengan panjang 10 km dan dikelilingi oleh hutan rawa air tawar. Sebagian besar danau ini ditutupi oleh enceng gondok,

Start


Kawasan ini terletak 15 km disebelah barat kota Serang atau 130 km di sebelah barat kota Jakarta, dan dapat dicapai dengan transportasi darat melalui Padarincang. Rawa Danau (dikenal juga dengan nama Ranca Danau) terdiri dari danau air tawar dengan panjang 10 km dan dikelilingi oleh hutan rawa air tawar.
Sebagian besar danau ini ditutupi oleh enceng gondok, kasau air dan tumbuhan air lainnya. Rawa Danau dikelilingi oleh gunung dan hanya memiliki satu saluran pengeluaran air (outlet) yaitu melalui Sungai Cidana. Gunung Tukung Gede yang termasuk di dalam kawasan ini, memiliki tipe habitat hutan hujan dataran rendah dan hutan rawa air tawar.
Hutan rawa air tawar di Rawa Danau merupakan salah satu yang masih tersisa di Jawa, dan meskipun sudah dalam keadaan rusak tapi masih tetap merupakan area terbesar yang masih tersisa di Jawa dan Bali. Sepertiga bagian dari Rawa Danau dipergunakan sebagai daerah persawahan, perkebunan, kolam ikan, serta pemukiman penduduk. Di dalam kawasan ini terdapat 5 desa yaitu Barugbug, Batukumung, Bugel, Citasuk, dan Kalumpang.

Hari Kamis, tanggal 3 February yang bertepatan dengan “Tahun Baru Imlek" tidak disia-siakan oleh Team Esia Gowes untuk mencoba track yang masih jauh dari publikasi umum dan dibuka oleh teman2 dari Seram (Serang All Mountain). Menurut teman-teman dari Seram, komunitas yang mencoba masuk melintasi Rawa Danau ini baru komunitas Trans TV, sekaligus mengambil liputan video berita untuk kawasan konservasi Rawa Danau ini. Jadi Esia Gowes adalah team kedua selain personil Seram yang sudah masuk track menarik ini.

Crew Goesbike yang mendampingi team Esia Gowes tiba tepat pukul 06.30 di Kantor Walikota Serang, tepat dimuka alun-alun Kota Serang yang menjadi titik kumpul paling mudah untuk para gowesers yang datang dari luar kota Serang untuk berkumpul. Tidak lama kemudian satu persatu anggota dari Esia Gowes dan team Seram sebagai “tuan rumah” mulai bermunculan di alun-alun yang sempat dihujani gerimis dipagi itu. Selain itu ada juga perwakilan dari PL Cybro, C4 dan Banten Cycling Club yang turut meramaikan total 17 peserta kali ini.



Setelah berkumpul semua, sepeda mulai loading ke Pick Up yang disediakan team Serang untuk dibawa menuju lokasi Start di sekitar Rawa Danau.

Lokasi Start tepat disisi jalan Raya dari Serang menuju ke Anyer ini langsung disambut dengan pemandangan gunung Parang dengan awan putih berarak yang posisinya lebih rendah dari batas pandangan lokasi start…. Menakjubkan….



Tepat pukul 09.00 pagi kami memulai doa dulu sebelum berangkat dengan didahului oleh Road Captain teman-teman dari Seram. Hanya 10 menit turunan, langsung belok kiri kami masuk ke Single Track dengan kontur lumpur becek menandakan hujan dimalam sebelumnya. Kondisi ini sangat menyulitkan untuk ban profil tipis (dibawah 2,10). Untuk mengatasi licin sehingga kehilangan traksi terpaksa kami harus “mengurangi” tekanan angin di ban depan maupun belakang agar tapak ban lebih menggigit kepermukaan lumpur licin yang siap melemparkan gowesers dari tunggangannya.

Kondisi tanjakan meskipun 10 – 15 derajat, tetapi sangat menyulitkan karena licinnya lumpur tersebut dan kondisi single track sehingga kalau gowesers depan turun dan TTB maka otomatis yang dibelakang akan ikut. Total 1,5 jam kami disiksa dengan tanjakan dan licinnya medan ini sebelum dibayar tuntas dengan track Light Down Hill selama 30 menit…!!!! Yang jelas membedakan track ini dengan track lain adalah dari kondisi pepohonan yang masih menutup track dibeberapa lintasan, sehingga langsung kami tahu bahwa track ini masih sangat jarang dilewati oleh para pesepeda. Perlu upaya extra dan kehati-hatian tinggi kalau tidak mau kepala atau mata terbentur dahan pohon yang melintang ditengah track.





Masuk ke jalur XC persawahan dan rawa lumpur
Tepat pukul 11.00 siang kami merapat di Saung tempat peristirahatan pertama sambil menunggu Pak Wawan dan team Seram menyiapkan menu makan siang ditengah hutan yang sudah terbayang lezatnya



Mau tau apa bumbu-bumbu penyedap untuk Sop Ikan serta Sambal Honje yang menjadi menu kami siang itu…??? Ada bawang merah, bawang putih, lengkuas, tomat, cabai merah dan cabai rawit, susu kedelai, minyak zaitun, madu, ebi kering dan berbagai macam tambahan bumbu lainnya….

Tak kalah menariknya menyaksikan Ayah (63 tahun), pak Wawan dan team mengupas, mengiris dan merajang bawang merah,bawang putih dan ramuan bumbu2 lainnya sebelum dimasukkan bersama ikan patin yang sudah dipotong-potong sebelumnya… Bagaimana cara makannya…??? Ternyata mudah saja, buah kelapa muda dibelah, setelah diminum airnya dan dimakan daging buahnya maka tempurungnya bisa dijadikan piring untuk santapan lezat siang itu…… Yuuummmmmyyyy



Nah…., setelah memakan waktu kurang lebih 2 jam untuk memasak maka tibalah waktu yang dinantikan; makan siang bersama… Untung cuaca yang tadinya sempat gerimis ternyata mulai cerah meskipun belum ada matahari. Beginilah Bikers Brotherhood dalam suasana makan bersama ditengah hutan



Tepat pukul 14.00 setelah beres-beres kami mulai disuguhi track yang memasuki persawahan dan rawa-rawa sebelum masuk ke muara sungai kecil menuju Rawa Danau… Ada masalah sedikit, sepeda Om Maluddin jebol shock belakangnya sehingga tidak bisa dikendalikan cepat dimedan yang berkontur kasar karena jarak pedal ketanah jadi dekat sekali…. Salut untuk om Maluddin yang tetap konsisten untuk gowes dan tidak menyerah untuk dievakuasi





Jangan salah dan takabur dengan track pematang sawah ini… Beberapa gowesers termasuk senior di Seram dan kontributor Goesbike “terpaksa” mencium wanginya tanaman padi karena memaksa gowes ditengah pematang sawah yang cukup sulit dilewati dibeberapa tempat.  Meskipun kelihatan mudah, tetapi aksi loncat irigasi bersama sepeda harus dilakukan berulangkali dan inipun memakan korban gowesers yang “tercebur” ke kali irigasi bersama sepeda sepedanya.

Lepas dari sawah yang harus dilewati sekitar 45 menit sampai 1 jam; barulah “The real adventure” menghadang kami didepan. Ujung irigasi sawah ternyata menuju Rawa Danau dimana medan kali ini berupa lumpur hitam pekat dengan tanaman perdu rapat disekelilingnya dan banyak juga yang berduri serta merobek kulit kami dibeberapa tempat.

Tawa riang disawah mulai berubah menjadi umpatan kecil manakala tangan atau kaki dirobek duri dan tantangan dari “penduduk asli” dari Rawa Danau mulai menampakkan diri : lintah atau pacet.
Semakin jauh maka kontur rawa semakin dalam, dan beberapa peserta yang terlalu lelah mendorong mulai kehabisan tenaga, beberapa diantaranya terjerembab di kedalaman lumpur yang bisa sampai sepinggang orang dewasa






Naik perahu di Rawa Danau
Setelah 45 menit mengarungi lumpur padat ini kami bertemu dengan “Tank Amphibi BTR 50” alias sampan untuk mulai mengangkut satu persatu gowesers bersama sepedanya ketitik kumpul berupa saung dipinggir danau.

Sampan kecil ini hanya muat 5 orang plus awak sampan kalau dinaiki orang plus sepedanya. Cukup mendebarkan naik sampan kecil dengan kondisi hutan lebat disekitarnya. Beberapa teman sudah kena lintah dan pacet, bahkan kami sempat memergoki satu ekor ular belang dengan panjang 1 meter sedang santai beristirahat kurang. 2 meter dari lintasan yang kami lewati. Sayang tidak sempat diabadikan dengan kamera.



Sewaktu finish di Batukuwung baru banyak yang cerita, kena lintah dan pacet mulai dari 1 ekor sampai 4 ekor sebesar kelingking bayi. Saya sendiri kena 1 ekor tetapi tidak ditemukan oknum Lintahnya, sisa darah saja yang mengalir cukup deras dari bekas luka.




Disaung tepi Rawa Danau kami mulai mengepak sepeda untuk dijadikan satu sampan, sementara pengendara disampan satu lagi. Kedua roda dilepas dan sepeda ditumpuk dalam satu sampan. Semua ditumpuk jadi satu seperti ikan sarden dalam kaleng.



Setelah mengepak sepeda dan gowesernya, ternyata sampan untuk manusia hanya cukup untuk 13 orang plus awak sampan. Terpaksa 5 orang dari Team Seram berjalan kaki dengan mengandalkan navigasi darat memotong hutan dan menunggu di Kampung Baru, sambil menunggu jemputan dari sampan lainnya.



Total perjalanan menyusuri Rawa Danau ini memakan waktu 1,5 jam. Awal berangkat sebagian besar berdoa karena “tau” bahwa sampan ini agak overload melihat jarak bibir sampan dengan muka Rawa Danau cuma sekitar 5 cm saja. Ombak sedikit saja sudah langsung masuk kedalam sampan dan harus ditimba keluar agar tidak tenggelam di Rawa Danau yang mempunyai kedalaman 3 sampai 5 meter.






Desa Padarincang - Batukuwung
Akhirnya setelah melewati muara Sungai Cimanuk maka mendaratlah kami masih dikawasan hutan konservasi sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju titik finish di Batukuwung.

Ternyata kontur jalan setelah turun dari sampan juga masih didominasi lumpur tebal ex sungai Cimanuk yang meluap. Otomatis kembali sebagaian besar track ini harus dilewati dengan TTB karena tebal dan licinnya lumpur yang harus dilalui.

Puji syukur kehadirat Allah SWT, tepat 1 menit sebelum adzan maghrib berkumandang seluruh rombongan sudah merapat di Desa Padarincang – Batukuwung tanpa satu kekurangan apapun.
Total perjalanan cuma lebih kurang 20 km, Start pukul 09.00 dan tiba finish pukul 18.00 diselingi istirahat sekitar 3 jam untuk makan siang. Jadi 20 km ditempuh dalam waktu 6 jam saja.







Sampai jumpa di track berikut….