Mountain Bike News, Mountain Bike Review, Travel and Adventure Goesbike.com Media - http://www.goesbike.com
Perjalanan Rangkas Bitung Ciboleger Baduy
http://www.goesbike.com/articles/1093/1/Perjalanan-Rangkas-Bitung-Ciboleger-Baduy/Page1.html
Henry Pangemanan

 
By Henry Pangemanan
Published on 23 February 2011
 
Desa Badui luar atau desa Kanekes berada di kabupaten Lebak. Kami dari Sepeda Jelajah Nusantara, Seram, Gebrakers, Esia Gowes dan C4 mencoba mengunjungi suku Baduy luar. Perlu 2 hari perjalanan ke kampung Baduy dengan sepeda. Untuk memasuki kampung Baduy, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Tentang Badui

Kanekes atau Baduy, satu daerah di Indonesia dengan satu tradisi yang kuat dan tidak menerima hal baru.Masyarakat Baduy adalah suatu kelompok masyarakat Sunda di wilayah kabupaten Lebak, Rangkas Bitung Banten. Baduy sendiri merupakan sebutan yang diberikan dari Masyarakat Luar untuk kelompok masyarakat tadi. Keberadaan masyarakat Baduy berada di hulu sungai Ciujung di kawasan Gunung Kendeng.

Menurut peniliti dari Belanda yang menyamakan kelompok masyarakat tersebut dengan kelompok Arab Badawi, kelompok masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Bahasa yang digunakan masyarakat Baduy bahasa Sunda dengan dialek Sunda Banten. Secara umum untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat luar mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan cukup lancar. Menurut kepercayaaan mereka sendiri; mereka berasal dari keturunan Batara Cikal, salah satu dari 7 (tujuh) Dewa / Batara.


Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).
Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing (non WNI)
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.


Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:
Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
Menikah dengan anggota Kanekes Luar


Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Kanekes, termasuk warga Kanekes Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Kanekes Dalam.
Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).


Perjalanan dengan sepeda

Setelah diperhitungkan dengan matang, para gowesers professional dari team Sepeda Jelajah Nusantara (SJN) yang sudah berpengalaman beberapa kali membuat event bersepeda disebagian besar daerah-daerah di Indonesia mengajak team Serang All Mountain (Seram) untuk membuat trip gabungan bersepeda dan tracking kewilayah Baduy. Kenapa gabungan sepeda dan tracking. Karena sesuai dengan peraturan adat Baduy, maka tidak diperbolehkan sepeda sebagai barang produk modern untuk masuk kedalam wilayah Baduy meskipun masih dalam lingkup wilayah Baduy luar. Selain itu medan dan kontur didalam wilayah Baduypun ternyata memang tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda karena medannya yang berbatu-batu padas dan tanjakan lebih dari 45 derajat.

Sebagai undangan dalam acara ini bergabung juga team F1 dari Gebrakers, Esia Gowes dan tentunya contributor dari goesbikers yang mendapat kehormatan untuk bergabung dan membuat liputan selama perjalanan menuju The Lost World….. Kalau ada yang disayangkan, acara yang dijadwalkan berlangsung tanggal 12 dan 13 February ini bertepatan dengan bulan Kawalu, dimana masyarakat Baduy dalam mempunyai ritual adat internal sehingga tidak bisa didatangi oleh tamu dari manapun selama 3 bulan berturut-turut semasa bulan Kawalu ini.


Hari Pertama , Rangkas Bitung – Ciboleger – Baduy :

Sabtu 12 February 2011, matahari serasa membakar bumi Lebak walaupun jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi kala seluruh peserta mempersiapkan diri di Kantor Telkom Rangkas Bitung sebelum bersepeda menuju Ciboleger. Ciboleger adalah desa terakhir yang bsia dimasuki kendaraan sebelum pengunjung ke Baduy harus meninggalkan kendaraan bermotor atau sepedanya untuk tracking memasuki kawasan Baduy.


Dari keseluruhan team keunikan di peserta, satu wanita dari Sepeda Jelajah Nusantara (SJN), tante Dwi Bahari dan seorang pegowes dari Eropa, Mr Piotr yang juga pernah mengikuti acara Sepeda Jelajah Nusantara ke 10 di Sumatra Utara. Mereka sudah menjelajahi mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sumbawa dan Sulawesi.
 
Nah, kembali ke trip ini secara total jarak yang akan ditempuh sekitar 40km; dan 90%nya melalui jalan aspal mulai dari halus sampai berlubang dan hancur bercampur kerikil dan tanah. Sisanya 10% off road melalui hutan karet yang meskipun cukup rimbun tetapi tetap suhu udara panas menyengat membuat banyak peserta dehidrasi. Yang tidak biasa adalah rekan dari Bandung yang biasa gowes disuhu udara sejuk, kali ini menikmati panas.


Makan siang, panas dan tantangan dijalan
Setelah menempuh jarak sekitar 17 km dengan kontur tanjakan terjal dan tanah merah, akhirnya seperti khasnya team Seram, makan siang dihutan karetpun segera disiapkan untuk all peserta.



Yang unuk ketika makan siang dengan “Sambal Honje” yang langsung ludes disikat para peserta; termasuk Piotr yang ternyata sangat menggemari makanan Indonesia



Setelah santap siang lezat ditengah hutan karet, dan sebagian gowesers yang muslim menunaikan kewajiban ibadahnya maka persiapan kembali dilakukan untuk menuju Ciboleger. Untuk kali ini ada pasangan uniq yang mencoba melawan terikanya matahari dengan mengenakan asesoris tambahan seperti photo dibawah ini



Setelah kebun karet kami dihadapkan dengan medan off road berupa tanah merah, batuan macadam lepas dan akhirnya bertemu dengan aspal kembali… Selesai tantangan..??? Justru dimedan aspal inilah tantangan berupa tanjakan dan turunan dimulai dengan teriknya sinar matahari. Beberapa gangguan juga menimpa beberapa pegowes, mulai dari sepeda yang menjadi bunyi ngak ngek ngok layaknya sepeda onthel, sampai putus rantai yang dialami Om Muslimin.




Desa Ciboleger dilanjutkan dengan berjalan kaki, bermalam di desa Marengo
Setelah menempuh total 40,8 km akhirnya tibalah kami di Desa Ciboleger, kampung terakhir tempat kendaraan bermotor termasuk sepeda, sebagai titik terdekat ke Desa Kanekes yang masuk dalam wilayah Baduy. Sepeda dititipkan ke penititipan umum. Dibawah ini foto di Tugu Ciboleger.



Tepat pukul 17.30 kami mulai memasuki kawasan Baduy luar dengan panduan dari Kang Iwan dari yayasan Wahana Raksa Buana; satu event organizer yang mengantar wisatawan masuk ke wilayah Baduy.



Kang Iwan mengenai peraturan didalam wilayah Baduy ke kami sebelum masuk, seperti sejarah masyarakat Baduy, adat istiadat dan hal lainnya.
 
Kurang lebih 2 perbukitan yang terjal harus dilalui, seperti batu-batu besar untuk tapakan kaki sehingga tidak sampai tergelincir. Tujuan kami menginap di daerah Baduy luar malam ini adalah Desa Marengo, yang bisa ditempuh antara 45 menit sampai 60 menit berjalan kaki dari Ciboleger.



Beberapa rumah yang kami lewati semua memiliki bentuk serupa, beratapkan rumbia dengan beranda didepan rumah tempat para penghuni





Ketika kami berjalan, kami bertemu seorang penduduk bernama Fadli yang merupakan penduduk asli Baduy dalam dan hendak pergi ke Ciboleger. Dia sangat ramah dan senyum. Mendadak pak Fadli menjadi bintang untuk wawancara dan mengambil gambar bersama kang Fadli. Ikat kepala putih dengan baju hitam-hitam merupakan salah satu busana khas Baduy dalam dan membedakannya dengan saudara-saudaranya dari Baduy luar.



Akhirnya setelah melewati waktu 1 jam, jam 18.30 malam kami tiba di Desa Marengo untuk bermalam. Sudah disediakan 2 rumah penduduk yang kosong dan bisa ditempati untuk 17 orang. Udara sejuk, tetapi tanpa listrik dan peralatan modern ini. Beberapa teman langsung berhamburan ke Sungai Ciujung yang letaknya Cuma 50 meter dibelakang rumah singgah kami untuk mandi dan mengambil wudhu sambil menanti makan malam siap.


Desa Marengo
Setelah mandi dan sarapan maka kami bersiap untuk menuju jembatan perbatasan antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Lama perjalanan lebih kurang 4 jam, tetapi medan yang dihadapi adalah perbukitan terjal yang luar biasa curam. Bahkan didalam kampung yang kami lewatipun tetap tangga batu curam adalah medan tracking yang kami harus lalui dibawah teriknya matahari.




Ada lebih kurang 4 jembatan bambu kami lewati untuk menyebrangi sungai Ciujung beserta pecahannya. Uniknya jembatan ini dibuat dari bambu yang menggantung pada pohon-pohon besar ditepiannya dan disambung hanya menggunakan tali dari serabut.









Kami juga menjumpai diberanda beberapa rumah panggung tampak ibu-ibu dengan ditemani anaknya sedang menenun kain yang ternyata dijual juga untuk masyarakat umum/turis. Satu lembar kain khas Baduy dihargai 100 ribu, cukup murah karena harus dikerjakan selama 3-4 minggu.


Jalan jalan dan pemandangan di sekitar kampung
Selain melalui perkampungan, kami juga melewati penjemuran padi Gogo Rancah dari Sawah Tadah Hujan yang banyak dijumpai disepanjang jalan.














Terima kasih untuk seluruh peserta baik dari Team Sepeda Jelajah Nusantara, Seram, Gebrakers, Esia Gowes dan C4 yang bersama-sama menikmati 2 hari satu malam bersepeda dan tracking menuju The Lost World