SAYA bisa membayangkan Zimbabwe yang panas terik, kering-kerontang, terbelakang, sewaktu membaca kolom “A Boy and a Bicycle(s)” karangan Nicholas D. Kristof di The New York Times.
 
Ini memang negara miskin. Ekonomi Zimbabwe belum terlalu lama pernah mengambil kebijakan redenominasi 100 triliun dollar Zimbabwe lama ekuivalen dengan 1 dollar Zimbabwe baru, malahan sekarang dollar AS juga diperbolehkan jadi alat tukar. One thing leads to another, tingkat kesehatan adalah yang terburuk di dunia, seburuk kualitas pendidikannya. Bangkrutnya perekonomian berarti juga kondisi infrastuktur yang payah.
 
Kristof menulis tentang Abel, seorang anak yatim-piatu di negeri itu yang tinggal di gubuk bersama keempat anak senasib lainnya. Abel, 17 tahun, adalah yang tertua diantara kumpulan anak-anak kurus-kering itu. Setiap hari dia harus bangun jam 4 pagi dan berjalan kaki selama 3 jam ke SMA-nya, menjelang magrib pulang, lalu menjadi semacam surrogate father bagi anak-anak lainnya. “Cajoling the younger orphans to finish their homework by firelight, comforting them when sick and spanking them when naughty,” tulis Kristof.
 
“Sepeda”, jawab Abel waktu Kristof bertanya apa yang diimpikannya. ”Dengan sepeda saya bisa menghemat total 6 jam perjalanan pergi dan pulang sekolah, sehingga punya waktu banyak untuk mengurus adik-adik lebih baik,” lanjutnya. Rupanya hati emas Abel menebar keharuan publik AS yang membaca kolom Kristof.
 
World Bicycle Relief (WBR) yang berbasis di Chicago mengirimkan 200 sepeda ke desa Abel. WBR adalah gagasan orisinil Frederick K.W. Day, CEO dari SRAM Corporation, pembuat suku cadang sepeda terbesar di AS. Dibentuk tahun 2005, misi WBR adalah advokasi pemberdayaan sosial di negara-negara miskin melalui sepeda, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. WBR mengimani slogannya “the power of bicycles”.
 
Cerita tentang Abel menjadi inspirasi bagi Day untuk kemudian merancang program “Bicycles-for-Education” di Zimbabwe dalam skala yang lebih besar. WBR bukan gincu dan bedak untuk mempercantik muka SRAM Corporation, ketulusan Day terlihat dari bagaimana dia besusah-payah mengubah rencana awal mengapalkan sepeda-sepeda bekas dari Amerika Serikat menjadi merancang— jadi ada unsur riset— sepeda khusus single speed seberat 55 pon yang sungguh badak.
 
“When we got out there, it was clear that no bike made in the U.S. would survive in that environment,” kata Day. Dari survei ke Zimbabwe itu Day juga tahu bahwa ketersediaan suku cadang dan perawatan adalah masalah laten. Jadi, “one-speed bicycle that needs little pampering “ adalah jawabannya kata dia.
 
“One notorious problem with aid groups is that they introduce new technologies that can’t always be sustained; the developing world is full of expensive wells that don’t work because the pumps have broken and there is no one to repair them,” begitu Kristof menyindir kelakuan para tuan pemilik proyek dari negara-negara donor, sekaligus mau menjelaskan mengapa Day berbeda.
 
Logis bila termasuk dalam program “Bicycles-for-Education” adalah pelatihan mekanik-mekanik lokal, dengan rasio satu orang untuk setiap 50 unit sepeda yang didistribusikan di suatu area. Mekanik ini dilengkapi dengan peralatan dan suku cadang pokok. Dengan demikian embrio usaha kecil juga mulai terbentuk, dan Abel sendiri adalah salah satu mekanik yang dilatih oleh WBR.
 

****
 
SUDAH pasti sepeda bukan satu-satunya solusi bagi komplikasi permasalahan di  Zimbabwe. Tetapi sepeda telah menolong Abel dan ribuan anak-anak Zimbabwe lainnya menemukan arti hidupnya. Anak yang lebih remaja mengatakan “sepeda adalah perubahan hidup”, yang lebih muda bilang “sepeda adalah sekolah”… ada juga yang berbagi tentang “sepeda adalah masa depan” atau “sepeda adalah harapan”.
 
Doa penting, tapi tidak cukup bila tanpa kerja. Pada akhirnya ini soal keyakinan memasukkan sepeda kedalam perencanaan dan melakukan tindakan untuk mewujudkannya. Itu sebabnya sampai tahun 2009 lebih dari 70.ribu sepeda, dan 20 ribu lainnya di tahun 2010, telah disalurkan melalui proyek-proyek humanitarian WBR.
 
Hari ini WBR telah memiliki banyak mitra pendukung baik dari lembaga internasional seperti World Health Organization maupun LSM semacam World Vision, Catholic Relief Services dan Care International. Lebih banyak lagi dari kalangan industri sepeda seperti Trek Bicycles, Specialized, GT Bicycles, Giant ,Shimano, Fox Racing Shox, DT Swiss dan lain-lain.
 
Di Indonesia masih banyak CEO salah kaprah soal konsep Corporate Social Responsibility (CSR) yang sesungguhnya. Seperti yang telah ditunjukkan Frederick K.W. Day, CSR bukan proyek on the side line apalagi dipersepsikan jangka pendek, tetapi selalu didalam konteks 3P— people (masyarakat), planet  (lingkungan) dan profit (motif pertumbuhan bisnis). Jadi, CSR adalah bisnis itu sendiri.

Artikel ini juga tampilkan via http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/10/sepeda-dan-korporasi/