Goesbike - http://www.goesbike.com
Trek Ciptagelar, jalur sepeda gunung
http://www.goesbike.com/articles/1361/1/Trek-Ciptagelar--jalur-sepeda-gunung.html
Henry Pangemanan
Trainer and Communication
 
By Henry Pangemanan
Published on 16 June 2011
 
Trek sepeda Ciptagelar, membutuhkan 2 malam perjalanan. Titik finish berada di pantai Pelabuhan Ratu. Diawali jalur hutan gunung Halimun Salak untuk menuju kasepuhan Ciptagelar. Awal perjalanan tidak kurang dari 20km, kombinasi medan menanjak. Perjalanan dilakukan oleh Esia Gowes,  SJN (Sepeda Jelajah Nusantara), KGB (Komunitas Gowesers Bandung), Gebrakers, C4, Pangudi Luhur Cycling Brotherhood (PL Cybro) dan komunitas Vittorio Pamulang

Tentang Ciptagelar


Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (Sd. sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi.

Pemimpin adat di masing-masing Kasepuhan itu digelari Abah, yang dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot (Sd. kolot, orang tua; kokolot, tetua). Kasepuhan Ciptagelar kini dipimpin oleh Abah Ugi, yang mewarisinya dari ayahnya, Abah Anom, yang meninggal dunia di tahun 2007. Wilayah pengaruh kasepuhan ini di antaranya meliputi desa-desa Sirnaresmi dan Sirnarasa di Sukabumi. Sementara Kasepuhan Cisungsang berlokasi di Desa Cisungsang wilayah Lebak dipimpin oleh Abah Usep. Salah satu ritual adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat adalah upacara Seren Taun; yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga Kasepuhan atas keberhasilan panen padi.

Kasepuhan Ciptagelar
Kasepuhan Ciptagelar adalah salah satu komunitas yang tergabung dalam Kesatuan Adat Banten Kidul (SABAKI). Komunitas adat ini bergabung menjadi anggota AMAN sejak konggres pertama pada 17 Maret 1999. Sebagian besar incu putu (warga) Kasepuhan Ciptagelar hidup di dalam wilayah pegunungan Halimun, sejak ratusan tahun yang lalu. Konon, Kasepuhan Ciptagelar berasal dari sebuah kerajaan di Bogor.

Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh seorang Abah (ketua adat) yang diangkat berdasarkan keturunan. Abah Ugi Sugriana R, adalah pemimpin saat ini, yang merupakan Abah ke sebelas yang tercatat sejak tahun 1368. Pusat pemerintahan Kasepuhan Ciptagelar selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pindahnya tempat ini berdasarkan wangsit dari leluhur kepada Abah. Akhir tahun 2000, Abah Anom (Alm. Encup Sucipta ayah dari Ugi Sugriana), sebagai pimpinan Kasepuhan pada saat itu menerima wangsit dari leluhurnya untuk pindah ke Ciptagelar setelah 18 tahun berada di Ciptarasa. Alm Abah Encup Sucipta menerima wangsit ini setelah melalui proses ritual.

Perpindahan pusat pemerintahan Kasepuhan ke Ciptagelar merupakan wujud kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhur. Mereka percaya bahwa jika perpindahan ini adalah perintah dari leluhur maka “tidak boleh tidak, mesti dilakukan”. Hal ini sesuai dengan nama wilayah Ciptagelar yang berarti terbuka atau pasrah menerima wangsit leluhur (untuk berpindah).
Secara administrasi, pusat pemerintahan Ciptagelar berada di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Lokasi ini berjarak kurang lebih 14 Km dari Desa Sirnaresmi, 27 Km dari Kota Kecamatan, 103 Km dari Kabupaten Sukabumi. Jika diukur dari Kota Bandung berjarak kurang lebih 203 Km ke arah Barat. Titik Koordinat S 06 47” 10,4’.

Sejarah Kasepuhan Ciptagelar
Menurut Ugis Suganda komunitas adat ini sebenarnya bernama Kaolotan Ciptagelar. Pria yang saat ini menjabat Menteri Luar Negeri Kasepuhan Ciptagelar ini mengatakan bahwa nama Kasepuhan itu penyebutan dari orang luar. Namun kini menjadi populer bagi orang awam. Abah atau pemimpin adat disebut “Bapak Kolot” yang membawahi “Olot Lembur” di setiap desa yang menjadi warga atau “incu putu” Ciptagelar

Konon, Kasepuhan Ciptagelar bermula pada tahun 611 Masehi bertempat di Sajira Banten. Ketua adat saat itu adalah Abah Agung yang memimpin selama 500 tahun.
Pada tahun 1.100 Masehi, Abah Agung mendapat wangsit untuk pindah ke Limbang Kuning. Setelah 300 tahun lamanya menikah dengan Ambu Sampih, akhirnya dikaruniai seorang putra yang bernama Aki Buyut Bao Rosa. Selama hidupnya Abah Agung telah beberapa kali pindah tempat. Selama 150 tahun beliau bertempat di Cipatat Bogor dan kemudian berpindah lagi ke Maja. Setelah beliau wafat, Kasepuhan kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Aki Buyut Warning yang merupakan putra hasil pernikahan dengan Nini Buyut Samsiah. Aki Buyut Warning memimpin Kasepuhan selama 202 tahun di Maja. Kemudian pindah ke Lebak Larang.

Selama tiga tahun di Lebak Larang, Aki Buyut Warning meninggal dunia. Kemudian kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bernama Aki Buyut Kayon. Seperti leluhurnya, Aki Buyut Kayon juga berpindah tempat. Terakhir beliau pindah ke Lebak Binong dan menetap selama 27 tahun lamanya.  
Ketika Aki Buyut Kayon wafat, putra mahkota yang bernama Aki Buyut Cebol saat itu belum dewasa, sehingga kepemimpinan Kasepuhan di”warnen” oleh Aki Buyut Santayan Di Pasi Talaga selama 23 tahun. Warnen adalah sebutan bagi orang yang diberi tugas menjadi Pemangku Adat sementara karena sang pewaris tahta belum dewasa untuk memimpin.

Setelah dewasa kemudian Aki Buyut Cebol menjadi Ketua Adat. Beliau bertempat di Tegal Lumbu selama 32 tahun. Kemudian digantikan oleh Uyut Jasiun lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama, hanya 7 tahun lamanya beliau pindah ke Bojong dan menetap hingga 17 tahun sampai ajal menjemput. Kepemimpinan diteruskan oleh putranya yaitu Uyut Rusdi. Pada tahun 1940 pusat pemerintahan pindah ke Cicemet, dengan membuka areal baru. Setelah 16 tahun lamanya menetap kemudian berpindah ke Sirnaresmi, tepatnya tahun 1956. Kemudian menetap. Pada tahun 1960 Uyut Rusdi wafat dan digantikan oleh Abah Arjo.
 
Selang 15 tahun lamnya menetap di Sinarresmi, Abah Arjo kemudian pindah ke Ciganas. Tujuh tahun kemudian Abah Arjo wafat pada tahun 1982. Beliau digantikan putranya yang bernama Abah Encup Sucipta yang terkenal dengan sebutan Abah Anom. Ayah dari Abah Ugi (Abah Ciptagelar saat ini) mendapat julukan Abah Anom, dikarenakan sewaktu beliau mengantikan ayahnya usianya masih relatif muda. Tahun 1983 Beliau pindah ke Ciptarasa dan menetap selama selama 17 tahun yang akhirnya menetap di Ciptagelar.

Jika dilihat dari sejarahnya, 3 Kasepuhan yakni Ciptagelar, Sinarresmi dan Ciptamulya dimana ketiga Kasepuhan ini berasal dari satu keturunan yang sama.

Abah Ugi




Keberangkatan dan hari pertama
Melihat sejarah dari Kasepuhan Ciptagelar dan letaknya yang jauh dipedalaman serta mendengar cerita-cerita dari beberapa rekan Pecinta Alam, Off Roaders, Bikers maupun Gowesers yang pernah mengunjungi Kesepuhan Ciptagelar ini, beberapa rekan-rekan dari Esia Gowes mulai membuat rencana mengunjungi daerah ini dengan bersepeda. Karena satu dan lain hal maka Trip to Ciptagelar ini baru bisa berlangsung dari tanggal 3 sampai dengan 5 Juni 2011 yang lalu.

Dalam Trip kali ini team Esia Gowes sebagai tuan rumah kedatangan beberapa anggota dari komunitas pecinta sepeda gunung Indonesia seperti dari SJN (Sepeda Jelajah Nusantara), KGB (Komunitas Gowesers Bandung), Gebrakers, C4, Pangudi Luhur Cycling Brotherhood (PL Cybro) dan komunitas Vittorio Pamulang yang menurunkan Pak Yanto dan Pak Ujang yang sudah pernah masuk track ini sebanyak 4 kali.Dan 2 gowesers asing yakni Piotr asal Polandia dan Jasson asal Kanada.

Hari Jum’at 3 Juni 2011 perjalanan diawali dari Desa Cipeteuy, Kabandungan sebagai Base Camp malam pertama dan t keesokan harinya menuju Kasepuhan Ciptagelar. Para peserta menumpang dirumah penduduk Desa Cipeteuy yang disediakan panitia.

Hari pertama

Pagi sebelum subuh di Cipeteuy , peserta mulai berkemas untuk perjalanan pagi. Sholat berjemaah para gowesers berlangsung khusyuk dan setelah sarapan pagi nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi.
Seluruh peserta diberikan briefing singkat oleh Om Hendra Munandi selaku Road Captain track kali ini.

Foto sebelum start



Lintasan jembatan menyeberang sungai di Pameungpeuk



Medan masih ramah, berupa aspal hancur dengan kerikil lepas disana sini. Tapi secara perlahan peluh mulai membasahi tubuh seiring dengan tanjakan demi tanjakan yang kami lalui untuk menuju Desa Pameungpeuk yang merupakan desa terakhir sebelum masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.



Dwi punggawa SJN sedang nanjak ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun



Tanda area kawasan taman nasional Gunung Halimun Salak




Medan tanjakan di Ciptagelar


Istirahat pertama di kawasan hutan, jarak belum 10 kilometer benar-benar sudah menguras tenaga.



Perjalanan mulai tertahan dan perlahan, seluruh peserta lebih banyak turun dari sepeda karena tanjakan dan medan di jalur ini. Foto bawah, Andre Firmansyah KGB team yang siap sedia memberikan bantuan kepada rekan lain dihari pertama.



Medan didalam hutan Ciptagelar bervariasi. Kadang terhadang oleh jembatan kayu darurat yang rapuh, melintas aliran air dangkal, dan jalur tanjakan dan turunan.





Sembayang, tetap jalan.



Foto bawah dari team PLCyrbo



Jebpret (istirahat) dibawah pohon seadanya.



Team C4 sedang menyiapkan makan siang




Setelah 20 km, sampai di Ciptagelar

Setelah menyelesaikan makan siang, kembali kami melanjutkan perjalanan. Ternyata setengah hari perjalanan pertama baru separuh jalan dari total jarak 20 km yang harus kami tempuh hari itu... Hanya 20 kilometer..

Ini masih nasib baik,karena tidak diguyur hujan deras. Pengalaman beberapa teman lain, mereka sampai di Ciptagelar jauh melewati maghrib karena medan berlumpur. Jalur semakin sulit ditembus karena karakter lumpur tanah yang menempel di ban sepeda. Walau hari tidak hujan bukan berarti medan yang dilewati lebih ringan, 80% dari perjalanan hari ini dilakukan dengan Tuntun Bike (TTB), Dorong Bike, Tarik Bike dan Gotong Bike...

Hampir seluruh peserta gowes hari ini mendapat bonus “Jatuh Bangun” mulai dari 1 kali sampai beberapa kali. Bahkan sebagian peserta sempat nyeletuk, “Inilah track paling adil untuk para gowesers. Sepeda harga 100 jutaan dengan yang harga 4,5 juta paling selisih sampainya 5 menit saja. Pakai Rem Saint 4 piston vs Rem V-Brake sepedanya Jasson ternyata harus sama-sama dorong, karena turunan terlalu curam dan licin untuk dilewati


Menuju Negri dibalik Awan, Kasepuhan Ciptagelar

Mendekati pukul 3 sore sampai dengan menjelang pukul 4 sore tibalah rombongan kami di Kasepuhan Ciptagelar. Setelah membersihkan diri dan mengganti baju , rombongan bertemu dengan Abah Ugi dan Pak Yoyok sebagai kerabat di Ciptagelar

Menjelang tiba di desa Ciptagelar.



Tiba diKasepuhan Ciptagelar



Rumah gede (rumah besar) Ciptagelar untuk bermalam.



Malam hari Road Captain Om Hendra Munandi dan crew Goesbike bertemu langsung dengan Abah Ugi. Beliau bercerita tentang asal mula dari Kasepuhan ini dan sampai tahap saat ini dimana Kasepuhan Ciptagelar sudah memiliki Radio dan Televisi sendiri yang dinikmati oleh warga Ciptagelar. Hal ini tidak lepas pengurusan Abah Ugi yang memang menggemari elektronika sehingga disalurkan dalam bentuk Televisi dan Radio yang bisa dinikmati warga sekitar.

Desa Ciptagelar sendiri juga mempunyai adat istiadat turun temurun yang masih dilakukan sampai sekarang. Kegiatan budaya tersebut banyak mengundang wisatawan baik lokal maupun manca negara. Terlihat foto yang ada di dinding Imah Gede, foto para wisatawan lokal maupun manca negara yang pernah datang dan tinggal dalam waktu cukup lama di Kasepuhan Ciptagelar. Tidaklah heran jika Ciptagelar ini sangat dikenal dikalangan off roaders, bikers, gowesers maupun para pendaki gunung yang sudah berulangkali datang kesini. Acara malam hari ditutup dengan Kambing Guling plus Soto


Hari ke dua, bangun pagi dan foto
Kalau hari pertama harus kami tempuh jarak lebih kurang 20 km dengan 20% saja yang bisa digowes dan sisanya TTB, pada hari kedua ini kami dihadapkan dengan tanjakan dan turunan cukup ekstrim. Desa Ciptagelar berada pada ketinggian 1157 meter, dan kami melanjutkan perjalanan dengan medan menurun sampai di pantai Pelabuhan Ratu. Setelah sarapan pagi tentu waktu photo tidak disia-siakan oleh peserta kali ini. Teman teman langsung asyik cari lokasi untuk berfoto ria.












Berangkat meninggalkan Ciptagelar ke Pelabuhan Ratu
Tepat pukul 08.00 kami mulai start dari Ciptagelar menuju Pantai pelabuhan ratu. Dari Total jarak 31 km, lebih kurang 1/3 nya merupakan tanjakan. Variasi medan dari lintasan landai sampai cukup curam, khususnya diawal perjalanan. Salah satu rekan mengalami putus rantai.







Untuk mencapai titik finish di Pelabuhan ratu, kami sempat melewati Kasepuhan Ciptarasa yang saat itu sedang panen. Kasepuhan Ciptarasa ini adalah kasepuhan dari Ciptagelar sebelum pindah ketempat saat ini dimedio awal tahun 2000an.



Perjalanan kami sempat terhenti ketika kami menemukan pemandangan Samudra Hindia sebagai latar belakang photo yang bagus. Paling tidak 45 menit kami habiskan disini untuk berphoto



Tepat pukul 13.30 sampai 14.30 satu demi persatu anggota rombongan tiba di Pantai Pelabuhan ratu tempat titik finish mengakhiri perjalanan kami selama 2 hari 2 malam ini.

Terima kasih untuk teman2 komunitas sepeda yang sudah bergabung dalam track ini, kerjasama yang sangat baik, dukungan logistik dan transport dari Om Nanang Handoko serta saling memberi semangat antar peserta menjadi suatu cerita indah yang tidak akan pernah terlupakan.

Terima kasih pula untuk seluruh masyarakat Desa Cipeteuy Kabandungan, Desa Ciptagelar, Desa Ciptarasa, serta tentu para sespuhnya seperti Abah Ugi dan Pak Yoyok... Benar-benar kehangatan luar biasa yang kami dapatkan sepanjang rute dan saat bermalam di Cipeteuy serta Ciptagelar.

Indonesia Luar Biasa, Ciptagelar..... We Shall return ria.