Para penggemar MTB yang mempunyai anak laki tentu sangat bersemangat kalau ternyata putra kesayangannya menunjukkan minat yang sama dengan hobby bapaknya. Selain ada teman bareng untuk menjelajah medan off road, tentunya exit permit dari rumah lebih mudah keluar bilamana kepergian bapaknya disertai juga dengan juniornya untuk melakukan atau menjalankan hobby yang sama.

          Akan tetapi pengalaman dari saya pribadi tentu bisa membuat para ayah lebih berhati-hati dalam membina dan membimbing para juniornya untuk mengikuti hobby yang tidak bisa dibilang enteng, tetapi untuk dibilang full ekstrempun ternyata tergantung dari medan yang kita jalani. Awal kejadiannya hari minggu kemarin saat saya memutuskan untuk mengajak istri dan ketiga anak saya (pertama dan kedua laki-laki usia 14 tahun dan 8 tahun, yang ketiga wanita usia 1 tahun) untuk sekedar menghirup udara pagi yang segar dikawasan Kebun Raya Cibodas yang sangat terkenal itu.

Sekilas cuplikan mengenai Kebun Raya Cibodas dari Wikipedia :

Kebun Raya Cibodas atau Taman Hutan Raya (Botanic Garden), terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1275 m dpl, bersuhu udara 17 - 27 derajat Celcius.

Kebun ini didirikan pada tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor pada lokasi di kaki Gunung Gede. Dengan curah hujan 2380 mm per tahun dan suhu rata-rata 18 derajat Celsius, kebun botani ini dikhususkan bagi koleksi tumbuhan dataran tinggi basah tropika, seperti berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan.

Berbagai fasilitas tersedia di kawasan Cibodas, mulai dari lapangan parkir yang luas untuk menampung puluhan kendaraan roda empat maupun bus, ruang informasi yang dilengkapi dokumentasi Wana Wisata Cibodas, areal bermain anak-anak, mushola, MCK umum, shelter, pendopo, teater alam terbuka, dan camping ground seluas 3 hektar yang dapat menampung 200 tenda.

Kebun Raya Cibodas berdekatan dengan beberapa tempat wisata lainnya. Bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas terdapat Bumi Perkemahan Mandala Kitri yang dikelola oleh Pramuka.

          Secara tempat bermain bersama keluarga tentu sangat menyenangkan bermain disini, dan dihari minggu kemarin saya memang tidak bermaksud menjelajah medan off road kecuali bermain dengan sepeda sekaligus melatih otot pergelangan kaki yang baru sembuh; maka kami membawa 2 sepeda MTB tetapi jujur tanpa membawa perlengkapan safety sama sekali seperti helm, decker, sepatu tertutup, sarung tangan karena memang sekali lagi tidak ada niatan untuk bermain ekstrem dengan sepeda MTB yang kami bawa.

          Awalnya berjalan lancar, saya dan sisulung Dicky yang berusia 14 tahun mulai menggowes mengikuti alur jalan aspal yang mempunyai ketinggian kontur berbeda lebih dari 100 meter dalam area Kebun Raya yang sangat luas sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk menaklukan tanjakan terjal yang semua dilakukan dengan senang hati karena udara sangat bersih dan pada saat kami masuk kedalam tepat pukul 7 pagi memang belum banyak pengunjung sama sekali.

          Setelah perhentian kami pertama dekat dengan air terjun maka kami memutuskan untuk pindah tempat parkir mobil ditempat parkir paling atas dekat dengan Rumah Besar ex Penguasa Kebun Raya jaman masih dipegang oleh orang Belanda untuk mengganti suasana sekaligus bermain dengan sepeda dilapangan rumput yang maha luas dengan latar belakang Gunung Gede dan Gunung Pangrango serta pemandangan depan turunan bukit dengan danau besar tepat ditengah taman.

          Kejadian bermula saat sepeda saya dipinjam oleh si Kakak Dicky yang berusia 14 tahun dan Vincent yang berusia 8 tahun menggunakan Leonis kesayangannya yang kami beri nama Black Hawk. Perlahan tapi pasti kedua putra kesayangan kami mulai memutari lapangan rumput yang luas dengan beberapa tanaman besar seperti pinus yang bisa menjadi peneduh kami sambil mengawasi anak-anak bermain. Tiba-tiba tak disangka dan tak diduga sitengah Vincent dengan cepat membelokkan sepedanya kearah turunan bukit yang cukup tajam sambil berteriak-teriak dengan senangnya; ”Kakak...., down hill...., down hill..., down hill.....!!!!!” sambil terus meluncur sangat cepat dan menghilang dari pandangan kami karena tertutup gundukan bukit yang cukup tinggi...!!!

          Plass....., langsung pucat saya dan teriak memanggil nama si Vincent selain kakaknya yang juga dengan cepat mencoba mengejar adiknya yang sudah turun dengan perkiraaan saya bisa lebih dari 30km perjam dengan sepeda kebesaran dan tanpa perlengkapan pengaman apapun...!!!! Benar juga..., tidak sampai 2 detik kemudian saya dengar teriakan histeris kaget dari beberapa pedagang dan pengunjung yang tidak kelihatan oleh saya tetapi saya bisa dengar teriakannya dengan sangat jelas.

          Langsung saya berlari dengan sekencangnya sambil mengucapkan Asma Allah semoga tidak terjadi yang diluar dari kesanggupan kami untuk menerima, dan benar saja...., saya lihat Vincent sudah dibopong oleh kakaknya sambil menangis tertahan (mungkin takut lihat saya datang karena saya paling marah kalau lihat anak lelaki menangis...). Langsung saya lihat medan tempat jatuhnya dan langsung mengguman Allahuakbar karena cukup tinggi juga antara tempat Vincent dan sepedanya terjatuh dengan bukit yang baru dilewatinya.

          Langsung saya bopong ketempat teduh dan berdasarkan pengalaman dibela diri serta sekian tahun melihat tindakan dokter di UGD saat masih bekerja diperusahaan farmasi, saya mulai periksa kondisi fisik luar Vincent mulai dari ujung rambut yang saya sibak satu persatu, leher, mata, telinga, tulang belakang mulai dari leher sampai tulang ekor, semua pergelangan kaki dan tangan sambil perlahan saya gerakkan untuk mengetahui mana yang sakit kalau digerakkan atau ditekan...

          Mukjizat...., saya dengar dari saksi mata dan pengunjung yang melihat jatuhnya, Vincent dengan Black Hawk terbang lebih dari 1 meter sebelum terhempas ditanah dengan sedikit batuan dan kemudian Vincent jatuh terlebih dahulu sebelum ditiban sepedanya. Tetapi dari pemeriksaan luar awal saya hanya melihat sedikit lebam (tidak bengkak) didahi kiri serta tulang pipi kiri dan ada lecet dipaha bagian dalam sebelah kanan. Semua anggota tubuh normal, bisa digerakkan dan ketika saya coba respons mata dan panggilan semua refleks normal. Pusingpun menurut Vincent hanya sedikit dan tidak terlihat kalau dia eneg atau menunjukkan gejala mau muntah seperti gejala kalau orang gegar otak. Setelah saya baringkan Vincent minta berdiri dan saya dampingi pada saat berjalan ke WC umum dekat TKP ternyata jalannya tetap lurus dan buang airpun normal tanpa rasa perih atau sakit (saya takutkan kandung kemih atau testis cedera karena benturan).

          Tanpa membuang waktu saya tetap putuskan bawa Vincent ke Rumah Sakit terdekat dengan TKP yakni di RS.Cimacan, rumah sakit paling terkenal disekitar Puncak Pass sampai Cianjur karena semua korban kecelakaan lalu lintas di Puncak pasti dibawa kesini. Setelah mengisi form administrasi Vincent langsung diperiksa oleh dokter jaga, dan semua yang saya lakukan di TKP mengenai cek fisik dilakukan juga oleh sang Dokter dengan hasil akhir jempol tangan si dokter yang berarti ’Insya Allah’ tidak ada cedera parah di Vincent...

Alhamdullilah...., Alluahuakbar...!!!! Tetapi tetap kami diminta memantau kondisinya selama minimal 24 jam kalau ada gejala lain yang timbul belakangan. Tetapi sampai pagi tadi dan baru saja saya cek kerumah beberapa menit lalu ternyata semua berjalan normal dan Insya Allah besok Vincent sudah bisa bergabung kembali dengan teman-temannya di sekolah.

Sebagai gambaran lokasi kejadian tempat Vincent terbang dengan Black Hawknya :

Vincent beberapa menit sebelum kejadian



Bukit sebagai awal Vincent meluncur deras dan Sepeda Black Hawknya persis didepan tembok yang dilewati saking cepatnya (total tinggi dari tempat jatuh kegundukan tanah diatas tembok kurang lebih 1,5 meter..)



Lokasi DropOff dilihat dari sudut berbeda. Bandingkan dengan ketinggian atap mobil sedan.



Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang kami alami :

  1. Anak dibawah usia 12 tahun itu mental belum stabil, pertimbangan antara bahaya dengan kesenangan sangat tipis. Be aware sebagai orang tua kalau anaknya mempunyai hobby yang agak ekstrem.
  2. Game berpengaruh pada mental anak... Hati-hati...!!!! Setelah saya selidiki ternyata Vincent punya Game Sepeda Down Hill dan sangat senang memainkan beberapa atraksi yang ada di game tersebut. Mungkin cara dan kesenangan bermain digame ini yang terbawa dialam bawah sadarnya sehingga kondisi nyata dianggap seperti bermain game... Sekali lagi hati-hari dengan kesukaan anak terhadap permainan game yang sering dan bisa terbawa kepada kehidupan nyata.
  3. MTB ekstreem bukan permainan anak kecil atau dibawah usia 12 tahun. Berikanlah pengertian kepada anak untuk mencoba light XC terlebih dahulu agar mereka mendalami dan mencintai dunia off road dan MTB, sehingga bukan untuk gagah-gagahan atau show of force kepada teman-temannya.
  4.  Percaya atau tidak, naik MTB mungkin seperti memegang pistol sungguhan bagi orang yang tidak mempunyai mental yang kuat untuk pengendalian diri serta kualifikasi untuk menggunakan alat tersebut. Artinya pada saat anak sudah duduk diatas MTB, seolah-olah semua bisa dikuasai dan dilewati oleh tunggangannya sehingga keselamatan menjadi nomor 2 bagi si anak. Pengertian berulang-ulang sangat penting diajarkan oleh orang tua yang mempunyai anak hobby main MTB.
  5. Merujuk kepada nomor 4, jangan pernah remehkan safety tools untuk anak-anak meskipun bermain hanya untuk dilingkungan yang dekat; karena bagaimanapun juga dari segi refleks,nalar dan emosional anak-anak dibawah 12 tahun pasti jauh lebih sederhana dibanding dengan anak-anak diatas 12 tahun atau senior-senior termasuk orang tuanya.

Semoga bermanfaat bagi para pencinta MTB.

”Kecelakaan itu terjadi bukan untuk membuat kita kapok, tetapi untuk kita bisa belajar bagaimana kedepannya tidak terjadi lagi kecelakaan disebabkan oleh penyebab yang sama...”

Salam gowes,

Henry ’Caqil’ Pangemanan.