Setelah photo narsis di pelataran parkir, pemanasan dimulai dengan sepeda masing-masing untuk mencapai puncak dari bibir gunung yang menghadap kekawah. Diatas kawah persis kami diberikan briefing oleh Om Amri sebagai sesepuh rute dan penunjuk jalan kali ini. Rute pertama langsung dihadapkan dengan batu cadas yang siap mencabik kulit pengendara yang terjatuh langsung membuat ciut beberapa peserta, tetapi dengan mengucap asma Allah ternyata satu demi satu peserta dapat melewati ujian pertama walaupun dengan TTB (Tun Tun Bike) pada beberapa lokasi yang memang tidak memungkinkan digowes.            

Setelah lepas dari kawasan puncak gunung Tangkuban Perahu dan sempat menyusuri jalur aspal turun curam, tibalah kami dimedan yang sering disebut-sebut dikalangan penggila olah raga Downhill dan menjadi salah satu tempat berlatih atlit nasional Downhill maupun XC Race; “Tjikole”. Menurut kabar di track ini ada 3 jalur, tapi kami ambil jalur medium yang artinya bukan yang paling sulit, tetapi juga bukan yang paling mudah. Track sangat menantang dengan menuruni bukit disela-sela pohon pinus dan akar-akarnya yang menjadi ujian kami untuk melewati tanpa terjatuh. Kemiringan turunan mulai dari 10 derajat sampai lebih dari 45 derajat sangat menantang karena dilengkapi dengan lokasi jumping, double jumping dan tentunya drop off. Beberapa tempat drop off ketinggiannya bervariasi mulai 20 cm sampai lebih dari 1 meter bisa dijumpai dimedan ini. Untuk yang tidak PD baik karena kondisi fisik, sepeda maupun nyali tersedia “Chicken Way” atau jalan dapur sehingga tidak perlu lompat bersama sepedanya. Beberapa teman yang mencoba lompat disini tak ayal langsung jungkir balik yang untungnya di etappe pertama ini tidak ada yang cedera parah.

 

Benar saja kabar yang kami dengar sebelum ini, belum sampai rombongan terakhir dari kami sampai diujung track Down hill ini tiba-tiba terdengar teriakan kencang, “ pinggir…pinggir……,pingggir……, dan wush…wush…….” Sekelebat bayangan terbang disamping beberapa peserta yang sedang susah payah menuruni medan yang ternyata dilewati oleh aksi latihan atlit-atlit nasional Indonesia diantaranya Risa Suseanty yang sudah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia mulai di tingkat Asean bahkan Asia untuk kejuaraan XC Race dan Downhill. Asli mak…, sampai terbengong-bengong teman-teman menyaksikan lompatan demi lompatan yang dilakukan para atlit itu yang akhirnya waktu menunggu aksi bolak balik para atlit itu terbayar dengan photo bareng dengan Risa ditengah kawanan penggowes Esia.

Photo bersama atlit nasional Risa Suseanty setelah trek Downhill Tjikole.


Etappe kedua setelah track Downhill adalah Murni track AM dan XC karena bisa digenjot secepat-cepatnya dalam kondisi medan menurun dan sebagian tanjakan tetapi tidak ada lagi drop off dan jumping. Sayangnya disinilah justru musibah terjadi, salah seorang peserta yakni Ulil dari Jakarta terjatuh dan tidak bangun lagi sampai peserta dibelakangnya tiba. Kejadian begitu tiba-tiba, dari pemeriksaan ditempat langsung dapat dibaca bahwa ada dislokasi/pergeseran sendi da nada kemungkinan patah atau retak di bahu. Sesuai perencanaan, mobil evakuasi segera datang dan membawa Ulil ke dukun urut setempat untuk pertolongan pertama sebelum dievakuasi ke Jakarta sore harinya. Semoga cepat sembuh dan bermain kembali dengan kami kawan, jangan kapok karena kecelakaan dijalan raya jauh lebih tinggi daripada kecelakaan dimedan persepedaan

Setelah trek XC sempat tertahan menunggu salah satu rekan yang dievakuasi karena cedera.



Alhamdullilah udara cerah masih terus menaungi perjalanan sampai makan siang di Lembang. Tidak terbayang kalau sampai satu hari sebelumnya atau pada hari H ini hujan turun, sudah pasti lomba tergelincir dan bisa menjadi klub Mud Boys melihat kondisi track yang sebagian besar tanah merah. Makan siang di Miranti Lembang membuat semangat kembali, menu usus, babat dan jeroan lainnya yang dihari-hari biasa ditakutkan kali ini menjadi santapan favorite peserta siang itu.