Dari jalan setapak kebun teh. Jam 12.01 teng. Team mencoba lagi satu sisa jalan dari kebun teh habis, terus sampai ketemu jalan setapak, dengan tepian jurang. Jalan ini benar benar sempit, mulai gerimis dari kabut. Ini judulnya bukan Cross Country atau sepeda gunung. Tapi mendaki gunung bawa sepeda man kekeke. Dijalur ini kombinasi naik sepeda dan TTB 20:80. Sepeda lebih banyak didorong.
Kalau terpeleset, jangan ditanya pasti cemong tanah. Jalurnya berundak undak, persis jalan setapak buat pendakian gunung. Pada happy aja sih, maklum belum hujan.



Team Sableng Kena Batunya


15 menit berlalu tembus ke ladang yang jaraknya cuma 100 meter dari titik akhir kebun teh, akhirnya jalan abis alias buntu lagi. Berhubung kabut turun, acara camping darurat di pondok dengan judul "entah siapa punya".  Maklum jalan setapak ternyata benar benar tamat sampai di gubuk tersebut. Ini foto dibawah masih hujan rintik rintik, sepoi angin dinginnnn.





Lama lama makin seru, hujan makin deras. Kabut makin tebal.
Narsiz tetepp.
Yang lesehan, Om Joseph, Henry, Rudy dan berdiri om Chui aka "Chairul"



Yang dibawah, Om Budhi, Edo, Chui, Henry lagi


Om Edo Segway, Chui, Yanto. Tetap semangat pake jempol, pengalaman mantap nih, asli belum ngalamin seperti ini. Sepedaan bareng kabut.



Om Budhi, Joseph (duduk), Edo, Henry, Agung. Om Rudy ketutup dibelakang. Kabutnya makin lama makin Mantapppp.
Biar nyasar, lawak jalan terus. Ditengah hutan aja masih cekakak cekikik.



12.17, lima belas menit berlalu. Om Budhi dinas dibawah untuk persiapan evakuasi, ngangkatin sepeda sih ke tempat lebih tinggi, walau masih rintik rintik gerimis.
Kali ini persiapan menembus ke tempat lebih tinggi lagi. Sambil mesem mesem kagum, "Tuh lihat saja pohon dibelakang, udah remang remang loh" kata om Budhi. Padahal jaraknya enga lebih dari 15 meter.



Rupanya bukan member team saja yang ikut berteduh. Masih ada mahluk lain bernama Pacet.
Sempat ketemu 2 buah pacet, langsung di ajak Narsiz alias ikut di foto. Lihat saja gayanya si Pacet, meliuk liuk mencari panas dan bokong yang lengah.
Enga percaya , click aja gambarnya. Toingg.



Suasana di tempat kami nyasar. Seperti ini, bleppp. Kabutnya makin gaarrr



12.26, 25 menit berlalu.  Gerimis mulai reda, kabut yang datang makin rame. Mau tahu kabutnya seperti apa.
Yah ini dibawah, setelah hujan, kabutnya yang datang. Foto dibawah cuma jarak sekitar 8 meter.



12.40 Setelah gerimis mulai reda. Akhirnya ngobrol bareng. A I U E O, om Rudy buka Garmin Mobile, dengan baterai darurat. Eeeeh di map GPSnya ada penampakan jalan kecil.
Wahh dikit lagi nih, artinya disebelah (bukit) sana ada jalan lain yang tercatat di GPS. Seluruh team setuju mencoba menembus ladang penduduk, siapa tahu dibalik kabut ada jalan sesuai peta GPS. Namanya team sableng, enga bisa putus asa dan maju terus mencari jalan.



Sambil terseok seok di jalan tanah, sekitar 20 meter mendaki dari pondok tempat berteduh.
Om Edo udah ada filling enga beres. Kayanya kita makin salah jalan nih man, beneran ini jalan enga jelas banget.
I cuma komentar, biar kita tunggu dulu team paling depan survei, dari pada capek nginjekin ladang sam bil buat nanjak (sambil dokumentasi). Entar juga turun lagi.
Ternyata benar. Tok. ketemu penampakan. Ada bapak yang punya ladang, gila man, cuma bisa bahasa Sunda ting. Ditanya bahasa Indo enga ngerti "teng".
Untuk om Henry bisa bahasa Sunda. Cas cis cus, obrolannya gini

Ada jalan kesana pak -  Oh tidak ada jalan ini buntu dan sudah paling atas. Tuh diatas punggung bukit enga bisa lewat kesana.
Sama sekali tidak ada jalan lagi pak -  Tidak adaaaa kisanak.
Kalau kekiri apa bisa tembus - Wah itu sangat berbahaya, harus turun lembah (maksudnya elu gila merosot ke lembah).
Om Henry nyerah, nanya rute keatas. Akhirnya tanya rute balik ke bawah.
Kalau kita balik dari batu kemana terus ke arah hutan pinus kemana pak- Wah saya bingung juga deh (kata yang punya ladang)
Percakapan berakhir "Gelapppp" Teng teng teng, kita nyerah. Balik lagi ke tempat awal.

Lanjut.
                                       
Halaman
Start  dari Rindu Alam warung pak Ade 
Masuk rute nanjak Telaga Warna Puncak Rindu Alam, foto foto 
Menuju perkampungan Tugu Utara. Nyasar pertama 
Desa ke 2, rute sudah benar - jadi salah. Sekolah SD Cikoneng 
Jalur SDN Cikoneng, mulai Nyasar, Jarum Super in Action 
Jalan setapak sampai mentok - ini beneran Nyasar. 
Gubuk Pacet Akhir dari Nyasar tanpa jalan ketinggian 1400 meter 
Kembali ke jalan yang benar. Makadam vs Vibrator 
Perjalanan pulang, Baso Batman, Macet dan Salesgirl Cantik