Goesbike - http://www.goesbike.com
Berat badan ideal koleterol obesitas, apakah mempengaruhi metabolisme tubuh
http://www.goesbike.com/articles/3612/1/Berat-badan-ideal-koleterol-obesitas-apakah-mempengaruhi-metabolisme-tubuh.html
- -
Screw Man. With cycling hobby, and provide information to everybody with http://Goesbike.com.
 
By - -
Published on 7 August 2017
 
Obesitas atau berat badan ideal, tidak mempengaruhi kesehatan seseorang. Keduanya tetap memiliki resiko terkena penyakit. Solusi utama adalah tetap beraktivitas dan tidak mempercayai angka berat ideal. Obat koleterol yang salah diberitakan di media internet

Ketika seseorang terkena kolesterol tinggi sebaiknya menjaga dengan mengkonsumsi obat
Badan kecil bukan belum tentu sehat. Penelitian terbaru dari Annal of Internal Medicine menemukan pria dan wanita dengan berat badan normal tapi memiliki kolesterol dan tekanan darah tinggi.

Resiko terkena penyakit jantung lebih berbahaya dibanding mereka yang mengalami obesitas tapi tetap aktif.

Pinggang yang ramping adalah karunia bagi seseorang ujar Dr Francisco Lopes dari Mayo Clinic.

Tetapi mereka menemukan 25% pria dan 35% wanita dengan berat badan ideal masih memiliki kelebihan lemak.

Ragu untuk berolahraga karena takut badan menjadi besar menjadi pendapat kurang baik di masyarakat

Lemak itu penting selama tidak muncul seperti lemak ditubuh. Tubuh yang kelebihan lemak dapat mempengaruhi metabolisme tubuh, dan insulin serta hormon lain sehingga kesulitan bekerja secara efektif. Hal ini dikemukakan oleh James O. Hill PhD dari direktur University of Colorado’s Anschutz Health and Wellness Center.

Kondisi seperti diatas dapat menjadi penyebab penyakit metabolik seperti diabetes, penyakit jantung dan penyakit ginjal.



Rangkuman dari penelitian diatas, berat badan ideal tidak menjamin seseorang bebas dari penyakit seperti orang yang kegemukan.

Pasien yang mengalami kegemukan , tetapi memiliki tekanan darah rendah dan kolesterol sehat. Tidak berarti bebas ari penyakit penuaan. Seperti kesehatan pinggul, pergelangan kaki, atau lutut karena berat badan masih diatas rata rata.

Menurunnya berat badan ke tingkat ideal atau masih mengalami obesitas, hal itu hanya pendapat kedua dari analisa dokter.

Yang utama hanya satu, tetap aktif kata Lopez. Jika orang gemuk tapi aktif, resiko serangan jantung lebih rendah dari mereka yang memiliki berat badan ideal.

Penelitian ini dirangkup dari Annals.org

Obat Kolesterol
Obat dalam kelompok Statin bermanfaatkan menurunkan tingkat kolesterol berdasarkan informasi Mayo Clinic
Memblokir zat yang dibutuhkan tubuh untuk membuat kolesterol. Dan obat Statin dapat membantu tubuh untukj menyerap kembali plak yang ada di dinding arteri. Sehingga mencegah penyumbatan lebih lanjut yang  dapat mengakibatkan serangan jantung.

Statin dikenal dengan nama obat atorvastatin (Lipitor), fluvastatin (Lescol), lovastatin (Altoprev), pitavastatin (Livalo), pravastatin (Pravachol), rosuvastatin (Crestor) dan simvastatin (Zocor).

Obat obatan tersebut terbukti efektif menurunkan kolesterol.  Apakah seseorang membutuhakan obat Statin.

Bila ingin menjaga tingkat kolesterol dibawah 200mg per desiliter. Koleterol tipe lipoprotein densitas rendah LDL atau koleterol buruk harus dibawah 100mg/dl.
Jika seseorang beresiko sangat rendah tidak memerlukan obat, kecuali tingkat koleterol sudah berada di atas 190mg/dl.
Jika seseorang menghadapi resiko sangat tinggi seperti pernah terkena serangan jantung dimasa lalu. Maka orang tersebut dapat memanfaatkan obat Statin walau tingkat kolesterolnya tidak meningkat.

Pola hidup dan makan sehat dapat menjauhi seseorang dari dampak penyakit yang disebabkan koleterol tinggi.

Obat telah digunakan dan efekti menurunkan kadar koleterol. Tetapi tidak semua orang memperhatikan mengapa obat Statin perlu di konsumsi.

Berita menarik dari NBC News
Ada cerita seorang programer berusia 54 tahun yang tinggal di New York. Dia telah diberikan obat Statin untuk kedua kalinya. Seperti Atorvastin dalam dosis rendah atau Lipitor setelah mengalami koleterol sedikit naik di tahun 2013.
Sayangnya pasien tersebut tidak suka meminum obat selamanya dan berhenti. Sampai keputusan tersebut membawa dirinya kembali ke UGD.
Kejadian diawali ketika dirinya mulai berkeringat di kantor dan hilang kesadaran di tempat kerja.

Dari dampak koleterol tinggi, kebanyakan pasien tidak diberi tahu apa yang akan terjadi bila mereka tidak mengendalikan kolesterol mereka. Atau sebagian mengabaikan peringatan yang sudah diberikan.

Diperkirakan sekitar 73 juta orang dewasa memiliki LDL tinggi (lemak jahat) di Amerika kata CDC. Statin menjadi obet yang paling banyak diresepkan di dunia dan membantu jutaan pasien untuk menghindari penyakit jantung dan stroke. Sebenarnya 28% pria dan wanita di Amerika yang berusia 40 tahun telah mengunakan Statin kata CDC.

Tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan pertengahan 2017. Sekitar 61% pasien saja yang diberi resep Statin masih terus melanjutkan meminum obat selama 3 bulan. Dan tersisa 55% pasien saja yang masih mengkonsumsi obat Statin setelah 6 bulan.

Penyakit yang disebabkan koleterol tidak memiliki gejala. Jadi sulit menyakinkan si pasien apakah mereka harus meminum obat untuk "Pencegahan" sebelum bencana datang kata Dr Steven Niessen kepala Kardiovaskular klinik Medicine Cleveland.

Studi lain. Dari Annals of Internal Medicine yang melacak 28 ribu pasien di 2 rumah sakit Massachusetts menemukan 3 dari 10 pasien berhenti mengkonsumsi obat penurun kolesterol. Di duga mereka merasakan mengalami efek samping akibat obat penurun koleterol tersebut.

Mereka yang berhenti meminum obat, 8,5% mengalami masalah dengan kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke dalam 4 tahun. Dibanding 7,6% dari mereka yang terus mengkonsumsi obat.

Menurut klinik Mayo, hampir 1/3 pasien yang mengkonsumsi obat jenis Statin melaporkan efek samping. Membuat orang akhirnya berhenti meminum obat.
Pada tahun 2012, badan regulasi obat Amerika FDA juga memberikan label peringatan, bahwa ada efek samping dari Statin yang membuat pasien mengalamis kebingunan, gangguan tidur, sakit otot dan kehilangan memory. Dan peningkatan gula darah yang menyebabkan diabetes tipe 2 serta melemahnya otot.

Informasi efek samping tersebut belum terbukti dan hanya disebarkan melalui media internet. Dari semua penelitian ilmiah, Statin adalah obat yang aman dan efektif.. Data dari UTSouthwestern Medical Center

Dari informasi diatas. Dokter setuju bahwa kadar koleterol yang tidak sehat dan tinggi terutama dipengaruhi oleh perubahan gen dan gaya hidup kita sendiri. Meskipun upaya obat obatan dapat membantu, tapi tidak menghilangkan mereka bebas resiko penyakit kardiovaskular.
Statin diserepkan seumur hidup. Kecuali orang yang kehilangan berat badan cukup banyak melalui operasi dan mengalami penurunan dramastis tingkat LDL



Informasi diatas adalah kutipan dari sebagian artikel UTSouthwestern Medical Center- Annals.org + Mayo Clinic