Perubahan di jalan jalan kota besar agak berbeda beberapa tahun ini.

Beberapa sepeda listrik, skuter listrik membanjiri beberapa kota dari Los Angeles sampai Tel Aviv.

Profesor William Riggs mengatakan ini menganggu. Alasannya ini adalah era dimana transpotasi berubah.

Tidak sampai disana, beberapa perusahaan otomotif mulai merambah skuter listrik

Forst membeli e-Scooter perusahaan Spin.

GM General Motor merancang sepeda listrik sendiri.

Perusahaan Uber mengakuisisi penyewaaan ebike Jump lebih dari 100 juta dollar.

Perusahaan Lyft telah menawarkan e-skuter di 4 kota di Amerika.

Layanan raksasa e-scooter dari Lime Bird dan Skip telah berkembang seperti belalang. Semua bersemangat untuk membangun sisi lain dari kota pintar atau smart city.

Sementara penduduk kota California mengeluhkan pengendara e-scooter karena menganggu jalur pejalan kaki.

Wisatawan yang mengunakan e-scooter juga memarkir kendaraan mereka di tempat yang dilarang. Setidaknya 2 orang meninggal akibat e-scooter.
Dan laporan kecelakaan meningkat di ruang gawat darurat rumah sakit.

Kota-kota di seluruh dunia mulai memasang teknologi, mengumpulkan data dan meningkatkan kehidupan perkotaan.

Kata Smart City adalah sebuah kota yang menangani semua kebutuhan penduduk secara digital. Dari manajemen energi, kesiapan bencana, hingga keselamatan publik.
Kota mengatur kendaraan e-scooter. Batas kecepatan, ijin, dan pengendara wajib mengenakan helm.

Kota lain membuat peraturan berbeda beda. Seperti California mengesahkan aturan bahwa orang dewasa boleh mengendarai sepeda listrik dan kendaraan sejenis sampai keepatan 40km perjam lebih. Tanpa diperlukan helm.

Kota New York berbalik arah, mereka melarang sepeda listrik diatas kecepatan 35km perjam tanpa ijin.

Profesor Rigg mengatakan, ada 3 bagian penting. Kepadatan, keragaman dan disain. Kebutuhan moda transpotasi harus didukung dengan kepadatan kota.

Disertai dukungan sistem nirkabel dimana mereka yang membutuhkan e-scooter dapat melihat lokasi. Atau ditempatkan di tempat parkir khusus yang disebut Docking.

Setelah sebuah kota menghitung kepadatan penduduk atau kesibukan di satu wilayah, dan keberagaman.

Yang terakhir adalah disain. Kota harus menyediakan infrastruktur fisik yang aman bagi moda baru. Masalah tidak sederhana seperti itu kata Rigg.

Ditempat  jalur sepeda, pengendara sepeda konvensional tidak mau berbagi dengan e-bike atau e-scooter.



Bila dipindah ke jalan, e-scooter dan e-bike akan menganggu kendaraan bermotor. Karena mereka memotong di depan kendaraan, dan laju kendaraan bermotor menjadi terhambat.

Uniknya ada 2 kota yang berhasil menyatukan jalur sepeda dengan pengendara sepeda listrik dan skuter listrik. Amsterdam dan Berlin memiliki budaya tersendiri.
Kedua negara mengambil pendekatan berbeda untuk menangani kendaraan listrik.

Jerman memberikan jalur kelas 1 untuk pengendara sepeda dan sepedaa listrik. Membuat pengendara kedua moda tersebut terpisah dengan pejalan kaki. Dan jalurnya menjadi sangat cepat dibanding kemacetan lalulintas.

Belanda lebih provokatif. Anak anak naik sepeda bersama orang tua tanpa helm. Disana aman, dan jalur dipisahkan dengan berbagai moda transpotasi.
Sementara pejalan kaki, pengendara sepeda, sepeda listrik dapat memanfaatkan jalur sepeda. Dalam beberapa jalan kadang disatukan tapi tetap memiliki jarak dengan jalan mobil.

Apakah sistem di Jerman dan Belanda dapat dibawa ke Amerika. Belum tentu cocok kata Rigg

Pembangunan kota berbeda. Kota Amerika dibangun dengan sarana fisik yang disatukan untuk berbagai bentuk moda transportasi.

Untuk kebaikan, kata Rigg sebaiknya sebuah kota yang pintar mengambil pandangan dengan multimodal dari sistem transportasi mereka.
Penduduk yang sehat ada di area dengan pilihan transportasi terbanyak. Dan bukan hanya bersepeda dan berjalan kaki saja.