FMengapa Jalanan Bebas Mobil Akan Segera Menjadi Norma
Di kota-kota seperti New York, Paris, Rotterdam, dan San Francisco, Hari Bebas Kendaraan muncul di tengah gerakan yang berkembang.
Penutupan jalan untuk Hari Bebas Kendaraan atau Car Free Day  di beberapa kota akhirnya menjadi tetap.

Ketika ditanya apa yang paling mereka sukai tentang kota yang telah mereka kunjungi, hampir tidak ada yang menjawab: "Mobil-mobil berdesing di jalan-jalan." Atraksi budaya, masyarakat yang kita jumpai, berjalan melalui kota dan menatap gedung gedung plaza, bangunan, dan tempat. Inilah hal-hal yang membuat kota menjadi unik.

Bagaimana jika ada cara lain untuk mendapatkan lebih banyak dari apa yang masyarakat sukai dan mengurangi kebisingan serta kemacetan yang tidak pernah dimiliki penduduk kota ?

Banyak kota yang berupaya mencapai tujuan itu, dengan menutup jalan-jalan utama untuk lalu lintas dan membukanya bagi orang-orang hadir tanpa kendaraan.

Kota-kota memiliki ruang terbatas, lalu bagaimana dialokasikan bagian penting bagi masyarakat.
Semakin padat tempat, semakin bernilai setiap meter persegi di kota besar.
Namun di seluruh dunia, kota-kota hanya memprioritaskan untuk akomodasi mobil, memberi ruang kota yang sangat luas dan membatasi area di mana orang seharusnya bisa berjalan, duduk di kafe, atau bermain-main dengan teman.

Banyak kota di Amerika dibangun lebih baru daripada kota-kota lain di dunia; sebagian kota besar lahir sebelum mobil tetapi setelah itu kota berkembang pesat.

Ini bukan kasus di Eropa saja, di mana hunian dan permukiman berabad-abad menyulitkan untuk akomoasi bagi mobil.
Di era pascaperang, kota-kota Eropa bisa saja mengikuti jejak Amerika dalam mendesain mobil. Namun, sebagian besar membuat pilihan yang berbeda.

Momen penting dalam sejarah ini terjadi pada tahun 1953, ketika Belanda Rotterdam membuat jalan besar, Jalan Lijnbaan, jalan pejalan kaki yang dibangun khusus yang benar-benar bebas mobil. Tujuannya adalah untuk menciptakan pusat kota modern yang berkembang — dan berkembang pesat — tapi menutup ruang untuk kendaraan dan membuka lebih banyak ruang bagi orang-orang.


Pada awalnya, pemilik toko di sekitar area khawatir bahwa pelanggan tidak dapat mencapai toko mereka tanpa berkendara sampai di depan toko mereka.
Tetapi bukti terus menunjukkan, ritel sebenarnya membaik di zona pejalan kaki.

Rotterdam dan bisnis lokalnya akhirnya melihat sukses besar setelah perubahan kebijakan ini, dan ini menunjukkan awal tentang kemanjuran menutup jalan untuk lalu lintas dan membuka mereka untuk orang.

Banyak kota-kota lain di Eropa mengikutinya, dan ini — ditambah dengan investasi yang besar dan berkelanjutan dalam angkutan umum, infrastruktur sepeda, dan banyak lagi — menciptakan pengalaman urban yang sangat berbeda bagi generasi penghuni kota.

Maju cepat ke jaman now katanya, di mana tempat-tempat seperti Amsterdam berusaha melarang semua mobil bertenaga gas dari pusat kota pada tahun 2030, dan Anda dapat melihat efek dari pilihan kebijakan yang sudah lama ada pada bagaimana kita mengalami kota.

Amerika agaknya berbeda
Di A.S. telah melihat peningkatan yang cepat dalam bersepeda, dan sekarang skuter elektronik, di kota-kota disana.

Penggunaan sepeda dan skuter bersama telah tumbuh pesat hanya dalam waktu singkat — lebih dari dua kali lipat jumlah perjalanan antara 2017 dan 2018 — dengan 84 juta perjalanan mikromobilitas bersama terjadi tahun 2018. Pada tahun 2019 jumlah ini terus bertambah, memperkuat kebutuhan akan ruang yang lebih besar untuk pilihan mobilitas.

Di akhir tahun 2019, peneliti melihat gerakan yang berkembang di kota-kota di seluruh dunia untuk membendung penggunaan mobil dan menutup jalan ke lalu lintas yang tak teratasi. Dua contoh paling menonjol di AS adalah kota New York City, dengan penutupan jalan 14th Street, dan San Francisco, yang akan segera menutup Market Street bagi mobil.

Dengan kurang dari seperempat penduduk Manhattan yang memiliki mobil, New York City sepertinya merupakan tempat utama untuk memberi orang lebih banyak pilihan untuk berkeliling tanpa kendaraan.

Inilah yang telah dilakukan kota dengan jalan nomor 14th Street dan membuat angkutan seperti busway khusus.
Apa yang dulunya salah satu jalan paling padat di New York sekarang menjadi tempat yang lebih bersahabat untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, dengan kecepatan bus yang sangat meningkat.

Sementara beberapa pengendara motor mengeluh tentang apa yang mereka anggap menganggu pemilik kendaraan, tetapi data menunjukkan bahwa jalan-jalan di mana lalu lintas dialihkan ke area yang tidak lebih padat. Dan orang-orang merasa kebutuhan mereka menjadi terpusat, dengan bekas tempat parkir berubah menjadi ruang hijau perkotaan.

Angka-angka tersebut memperkuat keberhasilan percobaan ini di New York City karena perjalanan bus juga semakin cepat — kadang-kadang kendaraan umum dapat melaju begitu cepat sampai harus berhenti beberapa saat agar tidak terlalu cepat dari jadwal.
Bayangkan rata-rata 15,1 menit bus untuk melakukan perjalanan sebelum shift menjadi 10,6 menit sesudahnya.

Penurunan 30 persen dalam waktu perjalanan ini menunjukkan bagaimana orang dapat bergerak lebih cepat melalui kota-kota jika tujuannya selaras dengan kebijakan.

Menuju ke barat, pemerintah San Francisco memilih untuk menutup Market Street bagi mobil. Market Street adalah salah satu jalan utama di pusat kota dan dalam banyak hal melambangkan ketidaksetaraan.

Car Free Day jadi norma

Dengan berusaha mengubah bulevar, kota ini akan membangun tempat yang lebih baik, lebih aman bagi 500.000 pejalan kaki yang menggunakan jalanan setiap hari.

Pejabat San Francisco berencana mengurangi ukuran jalan, memperlebar trotoar, dan menambahkan jalur sepeda selebar 3 meter untuk sepeda dan skuter. Dengan trem dan bus masih dapat melaju di tengah, orang akan lebih banyak pilihan untuk mencapai tempat yang mereka tuju.

Para penasihat dan pejabat kota sama-sama tidak melihat rencana Market Street secara terpisah, tetapi sebagai awal dari gerakan yang lebih luas untuk menutup lebih banyak jalan bagi lalu lintas dan membukanya bagi orang-orang yang ingin berjalan.

Walaupun dua contoh di New York dan San Francisco ini adalah penutupan jalan yang paling menonjol, mereka bukan satu-satunya contoh pemimpin kota yang mengambil kembali ruang masyarakat dari mobil dan memberikannya kepada orang-orang.


Ada zona pejalan kaki yang berkembang di Denver, Santa Monica, Madison, Charlottesville, dan Chicago. Inisiatif seni aspal memicu peluang untuk memberikan kembali jalan-jalan untuk orang-orang, dengan kota-kota seperti Oakland dan Asheville memimpin dalam menciptakan mural di jalanan. Perubahan semacam ini secara efektif dapat mengubah tanah di bawah kita sehingga berpusat pada rekreasi.

Kapan kota kota besar di Indonesia mengembalikan hak masyarakat untuk memiliki kembali dari jalan. Mungkin tidak sekarang, tetapi dengan teknologi yang ada. Cepat atau lambat akan seperti kota kota besar lain.