Sistem berbagi sepeda dengan epidemi Coronavirus yang masif di New York City

Jumlah Kasus COVID-19 yang baru Didiagnosis (titik Merahi) dan pengunaan berbagi sepeda (tabel biru), berdasarkan data di kota New York, periode 1 Maret - 3 April 2020.

Sistem berbagi sepeda New York City adalah hal utama disana - bukan penyebab transportasi utama infeksi coronavirus selama peningkatan di awal epidemi besar yang menjadi jelas di seluruh kota selama Maret 2020.

Penutupan pengendara sepeda di NYC - telah turun signifikan lebih dari 80 persen pada akhir Maret.

Angka tersebut ternyata berkorelasi kuat dengan peningkatan substansial dalam waktu penggandaan kasus baru di kota itu.

Gambar secara simultan melacak pergerakan harian dua variabel mulai 1 Maret hingga 3 April 2020.

Lingkaran yang dipenuhi warna merah muda menunjukkan jumlah infeksi coronavirus baru yang dilaporkan setiap hari oleh Departemen Kesehatan Kota New York.

Untuk variabel ini, sumbu vertikal di sebelah kiri diberikan pada skala logaritmik. Dengan begitu, tren garis lurus mewakili pertumbuhan eksponensial yang biasanya terlihat selama peningkatan awal epidemi di mana setiap orang dalam populasi infeksi.

Variabel kedua yang dilacak pada gambar mewakili jumlah total perjalanan berbagi sepeda setiap hari di seluruh stasiun berbagi sepeda New York City.

Hitungan ini dilaporkan setiap minggu oleh CitBike. Variabel ini direpresentasikan sebagai garis vertikal berwarna biru di sepanjang sumbu vertikal di sisi kanan.

Untuk variabel ini, sumbu horizontal mengukur tanggal di mana pengendara menggunakan sepeda. Data dibuat oleh peneliti MIT

Karena penurunan penggunaan sepeda semakin cepat dimulai pada hari Senin 16 Maret, hari ketika Walikota New York City de Blasio mengeluarkan perintah yang membatasi pertemuan dan menutup banyak tempat karena terjadi lonjakan infeksi.

Pada keseluruhan minggu ketiga, penggunaan sepeda turun mencapai 68 persen dari minggu pertama Maret, dan pada minggu keempat, turun 86 persen.

Perbandingan sederhana dari dua tren pada grafik tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan sebab akibat.

Eksponensial dalam infeksi selama dua minggu pertama bulan Maret mendukung hipotesis bahwa sepeda memainkan peran.

Sementara anjloknya jumlah penumpang berikutnya tampaknya juga sejajar dengan perataan kurva insiden yang dilaporkan, penurunan tajam pada ketinggian bar biru mungkin juga mewakili respons publik terhadap publisitas luas tentang wabah yang telah mengumpulkan menjadi badai. selama dua minggu.

Seperti yang dikatakan para ekonom, penurunan yang cepat dalam pengendara sepeda mungkin merupakan endogen. Meski begitu, pola temporal pada tabel kompatibel dengan kesimpulan bahwa sistem berbagi sepeda adalah kendaraan di mana respons publik diterjemahkan ke dalam pengurangan transmisi virus.


Pengendara berbagi sepeda turun, tren infeksi naik di New York

Pengendara sepeda dan pelari tidak menyebarkan virus

Awal bulan April 2020, insinyur Belgia-Belanda mempublikasikan beberapa temuan yang menjadi viral online dan memberi orang kesan sebaliknya. Para insinyur menggunakan generator partikel nozzle semprot untuk mensimulasikan penyebaran tetesan yang kami hasilkan saat kami berjalan, berlari, atau bersepeda. Karena partikel menabrak atlet yang lebih jauh dari 2 kaki jauhnya, para insinyur menyimpulkan kita perlu menjaga jarak lebih dari itu untuk menghindari risiko tertular Covid-19.

Mereka merekomendasikan untuk tetap berada 3 meter di belakang seseorang yang berjalan, 19 meteri di belakang seseorang yang berlari atau bersepeda perlahan, dan 30 meter di belakang seseorang yang bersepeda cepat. Jarak seperti itu hampir tidak mungkin dipertahankan di kota-kota besar. Jadi, ketika temuan membuat berita panik di internet

Informasi tersebut tidak lengkap dan hanya satu penelitian serta tidak ada pembanding. Kemungkinan informasi tersebut cacat.

Kata Angela Rasmussen, ahli virologi di Universitas Columbia, menambahkan, “Sangat penting untuk pahami bahwa infeksi dimulai dengan dosis minimum infeksi virus. ”

Dengan kata lain, "penelitian" gagal untuk mempertimbangkan dua pertanyaan kunci: Seberapa mudahkah partikel bepergian di udara di luar ruangan untuk menginfeksi seseorang ? Dan berapa banyak partikel yang mengandung virus menular yang harus dihirup orang lain menjadi terinfeksi?

Mari kita uraikan masing-masing dari dua pertanyaan itu secara bergantian.

Seberapa mudahkah partikel yang bepergian di udara luar menginfeksi Anda?
Untuk memulainya, kita harus memperjelas sesuatu yang telah terbukti membingungkan banyak orang: Apakah coronavirus "dapat terbang" ?

Yang didasarkan pada ukuran partikel virus dan berapa lama virus dapat bertahan di udara sebelum kehilangan infektivitasnya.

Para ahli kesehatan masyarakat suka menyebut partikel yang lebih besar yang berat dan jatuh dengan cepat sebagai "tetesan," dan partikel kecil yang menguap lebih cepat daripada jatuh sebagai "aerosol." Ketika virus ditularkan sebagai bagian terkecil bentuk aerosol, mereka mengatakan itu "mengudara." Yang dimaksud berterbangan.

Kita tahu pasti bahwa coronavirus bergerak sebagai tetesan.
Lalu bagaimana dengan aerosol atau virus yang masih menyebar di udara ?

Penelitian oleh Lydia Bourouiba dari MIT menunjukkan batuk dan bersin dapat melepaskan awan partikel yang bergejolak dalam bentuk droplet dan aerosol. Partikel-partikel dari batuk dapat melakukan perjalanan sejauh 3 meter. Sedangkan partikel-partikel dari bersin dapat melakukan perjalanan sejauh hampir 6 meter.


Pertanyaan penting, seberapa kuat virus ketika dalam bentuk aerosol?
Berapa lama bisa bertahan di udara sebelum lapisan pelindung dari kulitn virus mengering dan hancur, dan tidak lagi menular?

Kami telah melihat gugus kasus Covid-19, seperti yang berasal dari praktik paduan suara di negara bagian Washington, yang tampaknya mengindikasikan bahwa orang tanpa gejala dapat menghasilkan aerosol yang membuat orang lain sakit - setidaknya ketika orabg dipadatkan bersama-sama di tempat tertutup. satu ruang, selama beberapa jam, bernyanyi, yang menghasilkan tekanan lebih tinggi dibanding aktivitas bernapas atau berbicara.

Untuk mengurangi durasi paparan dapat diperbaiki dengan  meningkatkan ventilasi udara di sekitar kita maka dapat menurunkan risiko Anda. Dan berada di luar ruangan biasanya membantu menjaga ketiganya.

“Risiko penularan virus melalui udara di luar ruangan kemungkinan cukup rendah dalam konteks tersebut, meskipun risiko ini belum diukur secara definitif,” kata Rasmussen. “Di luar, hal-hal seperti sinar matahari, angin, hujan, suhu sekitar, dan kelembaban dapat memengaruhi infektivitas dan penularan virus, jadi kami tidak dapat mengatakan tidak ada risiko, kemungkinan ada resiko tapi rendah kecuali kita terlibat dalam aktivitas sebagai bagian dari kerumunan besar
. Latihan outdoor soliter kemungkinan berisiko rendah. "

“Risiko penularan virus di udara di luar ruangan kemungkinan cukup rendah dalam konteks tersebut, meskipun risiko ini belum diukur secara definitif,” kata Rasmussen. “Di luar, hal-hal seperti sinar matahari, angin, hujan, suhu sekitar, dan kelembaban dapat memengaruhi infektivitas dan penularan virus, jadi sementara kami tidak dapat mengatakan tidak ada risiko, kemungkinan rendah kecuali Anda terlibat dalam aktivitas sebagai bagian dari kerumunan besar ( seperti protes). Latihan outdoor soliter

Rasmussen dan Kasten keduanya mencatat bahwa rangkaian kejadian yang sempurna hanya terjadi bila virus melompat dari pejalan kaki yang terinfeksi ke luar rumah kepada seseorang.

Ketika terbang, virus di dalam partikel harus bertahan hidup sementara dengan cahaya sinar matahari, kelembaban, angin, dan kekuatan lainnya yang bekerja untuk membusuk dan membubarkannya virus.

Partikel-partikel harus mendarat tepat di tenggorokan bagian atas atau saluran pernapasan atau dapat jatuh di tangan anda, yang kemudian anda gunakan untuk menyentuh mata, hidung, atau mulut
Selanjut virus harus melewati semua penghalang infeksi di sistem pernapasan, seperti rambut hidung dan lendir. Kemudian virus juga harus jatuh dibagian reseptor ACE-2 sel dan menggunakannya untuk masuk ke dalam sel. Disana infeksi dapat terjadi.

Itulah urutan yang cukup sulit dari kenyataan terjadinya infeksi.
Bila ada pelari lewat di depan kita dan dia mengenakan masker. Virus mungkin kesulitan menyentuh seseorang dengan dosis yang cukup tinggi untuk benar-benar menginfeksi.

Berapa banyak partikel yang harus dihirup untuk meluncurkan infeksi bagi seseorang?

Satu hal yang kita semua ingin tahu tentang Covid-19 adalah apa yang merupakan dosis menular.
Berapa banyak partikel virus hidup yang perlu masuk sekaligus sebelum mereka memulai infeksi. Sayangnya, para ilmuwan belum memiliki jawabannya.

"Ketika data model hewan terus keluar, kami akan memiliki ide yang jauh lebih baik tentang perkiraan kisaran dosis infeksius," kata Rasmussen.

Sementara itu, beberapa ahli memperkirakan dosis infeksi Covid-19 dari virus korona sebelumnya yang telah menginfeksi manusia, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Untuk mengembangkan infeksi MERS, jumlah partikel virus yang dibutuhkan untuk menghirup adalah ribuan, mungkin setinggi 10.000.
Willem van Schaik, seorang profesor mikrobiologi di University of Birmingham, memperkirakan bahwa mengembangkan penyakit Covid-19 ke tubuh seseorang, jumlahnya lebih rendah, mungkin dalam ratusan atau ribuan.

Tetapi itu baru dugaan dari informasi peneliti, masuk akal dibutuhkan lebih sedikit partikel untuk meluncurkan infeksi dalam kasus Covid-19 dibanding MERS.
Karena Covid-19 jauh lebih mudah menular.

Setiap orang dengan Covid-19 rata-rata dapat menginfeksi dua atau tiga orang lain, sedangkan untuk MERS jumlah itu kurang dari satu.

Meskipun kami tidak tahu persis berapa banyak partikel yang dibutuhkan - 900 virus atau 1.500 virus.
Poin yang perlu diingat di sini adalah anda tidak akan terkena Covid-19 jika tidak ada satu partikel jatuh masuk ke dalam tubuh.

“Viral pemeriksaan RNA tidak menyiratkan adanya virus menular,” jelas Kasten.
Virus, tanpa sel inang dan sedikit uap air hanya menjaga agar bertahan sementara waktu, lalu virus dapat hancur, meninggalkan serpihan RNA-nya yang tergeletak di bawah sinar matahari.

Jadi, ketika melihat berita utama yang tampaknya menakutkan, ada yang mengatakan para peneliti menemukan coronavirus di kapal pesiar dan di karantina 17 hari setelah penumpang sehat turun - ingatlah itu tidak selalu berarti virus itu hidup, virus yang menular disana

Dengan pengetahuan ini bukan berarti anda bisa menjaga diri dan lebih berani ketika di luar ruangan.
Mencuci tangan, menghindari menyentuh wajah, rajin menjaga jarak, mengenakan masker di depan umum, dan mendisinfeksi permukaan komunal semua ini memungkinkan  mengurangi risiko penularan, dan kita harus terus melakukannya, kata Rasmussen.

Secara psikologis, orang yang memiliki perbedaan dengan  tingkat toleransi terhadap risiko. Bagi sebagian orang, risiko apa pun yang dapat diminimalisi dan di jaga.
Jarak 2 meter adalah jarak yang disarankan, dimana kita mengenakan masker.

Seaman apapun semuanya ada resiko. Sama seperti orang berjalan dan ditabrak kendaraan lain, atau naik gunung dan batuan tebing jatuh.
Ketika menghirup udara bersih. ketika dengan dengan penderita. Pengamannya adalah masker kita sebagai tali agar tidak terjatuh dari tebing..