Track ini memang mempunyai daya tarik tersendiri untuk para pencinta keindahan alam ciptaan Allah SWT. Lokasi start track ini berada di kaki Gunung Papandayan (2170m dari permukaan laut), salah satu gunung berapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Garut. Dari kota Bandung lokasi ini bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 2 jam setelah melewati Kota Garut dan melewati desa Samarang dan desa terakhir sebelum lokasi adalah Cisurupan. Tentu waktu tempuh 2 jam dari Bandung dengan catatan jalanan lancar seperti saat kami lewati Jum’at dini hari itu. Gunung ini meletus terakhir pada bulan November 2002, dimana pada saat itu satu kawah besar bernama Nagrak hilang tertimbun longsoran, tetapi menimbulkan 4 kawah baru selain danau besar berwarna kebiruan yang terjadi dari ex kawah Nagrak.

Kalau lokasi start track ini berada di wilayah kabupaten Garut, lokasi finish track kali ini berada diwilayah Bandung selatan, atau lebih terkenal dengan perkebunan teh Pengalengan. Salah satu perkebunan yang terkenal didaerah ini adalah perkebunan teh Malabar dibawah manajemen PTPN VIII, dimana masih terdapat bekas rumah tinggal Meneer Bosscha; salah satu Pengawas Perkebunan orang Belanda yang sangat terkenal sekitar tahun 1800an.

Kembali ke cerita track sepeda kali ini, team Esia Gowes dan Goesbikers merencanakan perjalanan dilakukan tepat pada hari libur nasional tanggal 26 February yang jatuh pada hari Jum’at. Pertimbangannya dengan mengadakan trip hari Jum’at ini tentu para peserta masih mempunyai hari libur di Sabtu dan minggunya untuk keluarga masing-masing. Rombongan dari Jakarta dipimpin oleh om Tito sebagai Road Captain, Om Tommy, Om Eko Ris, Om Dito, Om Budi Jatmiko, Om Thariq dari Esia Gowes, ditambah saya mewakili Goesbikers dan satu orang team tamu yakni Om Andi dari komunitas Bike To Eat. Berangkat dari Wisma Bakrie Kuningan Jakarta sekitar jam 18.00 sore; rombongan ini baru tiba di Cisurupan Garut tepat pukul 02.00 pagi hari Jum’at.... Mantab man..., 8 jam diperut 2 Inova untuk angkut personil ditambah satu Truck Colt Diesel pengangkut logistik dan sepeda-sepeda kami tentunya. Tak banyak cakap, segera kami tidur pulas antara Pk. 02.30 sampai Pk. 04.30 subuh.

”Alhamdullilah...., langit cerah dan Insya Allah tidak akan hujan”; teriakan kencang dari Om Tito selaku Road Captain membangunkan kami dipagi buta itu. Segera kami berkemas, mandi pagi tanpa air hangat (maklum hotel kelas melati 1 yang tanpa air panas dengan harga cuma 75 ribu perkamar/malam), sholat subuh dan sarapan nasi goreng telur dengan teh manis hangat. Cuma satu jam waktu kami sebelum berangkat dari hotel menuju lokasi Start di kaki gunung Papandayan tepat pukul 05.30 pagi. Oh iya...., pagi itu sebagian besar wajah peserta kali ini sumringah; maklum kami baru mendapat hadiah jersey dari Om Nanang Handoko yang kali ini tidak bisa ikut karena putranya dioperasi hari Jum’at subuh... Terima kasih om Nanang, kebaikan anda semoga menjadi berkah dan semoga putranya juga cepat pulih; serentak doa kami dipagi itu kepada Om Nanang..

Perjalanan dari hotel menuju kaki gunung Papandayan yang berada di ketinggian kurang lebih 2000m dpl lebih kurang 1 jam 30 menit, bukan dikarenakan jaraknya tetapi lebih kepada jalan batuan yang rusak, tanjakan curam dan juga truk pengangkut sepeda tidak mungkin berjalan cepat menghadapi medan seperti itu. Tepat dipertengahan jalan klakson dari Mitsubishi L200 Strada Double Cab memecah kesunyian kami yang tengah menikmati pemandangan, ternyata dibelakang kami rombongan Esia Gowes Bandung yakni Om Yusron dan Om Sabur berada dalam kendaraan Mitsubishi tersebut, dan berkah untuk kami juga karena ternyata disaat terakhir Om Yusron bisa membujuk Tang Mush (Tatang Mustopha), salah satu gowesers dari Bandung yang juga anggota Trabas yang akan menjadi pemandu kali ini.

Bisa dibayangkan, kalau Tang Mush tidak ikut berarti perjalanan hari ini hanya berdasarkan data GPS yang kami peroleh sebelumnya; dan dari beberapa perjalanan sebelumnya ternyata agak sulit mempraktekan data yang ada di GPS dalam kondisi real dilapangan. Bukan salah GPSnya, tetapi pada saat jalan tentunya akan sulit membagi konsentrasi antara baca data dengan kontrol sepeda, terutama pada saat jalan menurun dan dilalui dengan cepat. Yang ada biasanya bablas dan harus balik lagi keatas kalau rutenya terlewat. Terima kasih Om Yusron dan Tang Mush. Segera seluruh sepeda diturunkan, administrasi kepada pengelola area Papandayan sebesar Rp.5,000,-/orang dibayarkan dan photo-photo bersama serta doa dipanjatkan kehadirat Allah SWT sebelum kaki melangkah untuk menggowes sepeda kami.