Goesbike - http://www.goesbike.com
Travel MTB, Papandayan Pengalengan
http://www.goesbike.com/articles/449/1/Travel-MTB-Papandayan-Pengalengan.html
Henry Pangemanan
Trainer and Communication
 
By Henry Pangemanan
Published on 2 March 2010
 
Track sepeda gunung Papandayan Pengalengan dari team Esia. Rute 36KM, diawali dari puncak gunung Papandayan. Awal perjalanan di kawah gunung Papandayan lebih banyak melakukan dorong sepeda. Titik ketinggian 2.400m dari permukaan laut. Rute yang dilewati termasuk permukaan kawah gunung Papandayan, jalur singletrack, melewati hutan tropis dan kebun teh. Track sepeda gunung Papandayan termasuk salah satu rute sepeda dengan pemandangan terindah di Jawa Barat.

Sekilas rute sepeda Gunung Papandayan Pengalengan
Track ini memang mempunyai daya tarik tersendiri untuk para pencinta keindahan alam ciptaan Allah SWT. Lokasi start track ini berada di kaki Gunung Papandayan (2170m dari permukaan laut), salah satu gunung berapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Garut. Dari kota Bandung lokasi ini bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 2 jam setelah melewati Kota Garut dan melewati desa Samarang dan desa terakhir sebelum lokasi adalah Cisurupan. Tentu waktu tempuh 2 jam dari Bandung dengan catatan jalanan lancar seperti saat kami lewati Jum’at dini hari itu. Gunung ini meletus terakhir pada bulan November 2002, dimana pada saat itu satu kawah besar bernama Nagrak hilang tertimbun longsoran, tetapi menimbulkan 4 kawah baru selain danau besar berwarna kebiruan yang terjadi dari ex kawah Nagrak.

Kalau lokasi start track ini berada di wilayah kabupaten Garut, lokasi finish track kali ini berada diwilayah Bandung selatan, atau lebih terkenal dengan perkebunan teh Pengalengan. Salah satu perkebunan yang terkenal didaerah ini adalah perkebunan teh Malabar dibawah manajemen PTPN VIII, dimana masih terdapat bekas rumah tinggal Meneer Bosscha; salah satu Pengawas Perkebunan orang Belanda yang sangat terkenal sekitar tahun 1800an.

Kembali ke cerita track sepeda kali ini, team Esia Gowes dan Goesbikers merencanakan perjalanan dilakukan tepat pada hari libur nasional tanggal 26 February yang jatuh pada hari Jum’at. Pertimbangannya dengan mengadakan trip hari Jum’at ini tentu para peserta masih mempunyai hari libur di Sabtu dan minggunya untuk keluarga masing-masing. Rombongan dari Jakarta dipimpin oleh om Tito sebagai Road Captain, Om Tommy, Om Eko Ris, Om Dito, Om Budi Jatmiko, Om Thariq dari Esia Gowes, ditambah saya mewakili Goesbikers dan satu orang team tamu yakni Om Andi dari komunitas Bike To Eat. Berangkat dari Wisma Bakrie Kuningan Jakarta sekitar jam 18.00 sore; rombongan ini baru tiba di Cisurupan Garut tepat pukul 02.00 pagi hari Jum’at.... Mantab man..., 8 jam diperut 2 Inova untuk angkut personil ditambah satu Truck Colt Diesel pengangkut logistik dan sepeda-sepeda kami tentunya. Tak banyak cakap, segera kami tidur pulas antara Pk. 02.30 sampai Pk. 04.30 subuh.

”Alhamdullilah...., langit cerah dan Insya Allah tidak akan hujan”; teriakan kencang dari Om Tito selaku Road Captain membangunkan kami dipagi buta itu. Segera kami berkemas, mandi pagi tanpa air hangat (maklum hotel kelas melati 1 yang tanpa air panas dengan harga cuma 75 ribu perkamar/malam), sholat subuh dan sarapan nasi goreng telur dengan teh manis hangat. Cuma satu jam waktu kami sebelum berangkat dari hotel menuju lokasi Start di kaki gunung Papandayan tepat pukul 05.30 pagi. Oh iya...., pagi itu sebagian besar wajah peserta kali ini sumringah; maklum kami baru mendapat hadiah jersey dari Om Nanang Handoko yang kali ini tidak bisa ikut karena putranya dioperasi hari Jum’at subuh... Terima kasih om Nanang, kebaikan anda semoga menjadi berkah dan semoga putranya juga cepat pulih; serentak doa kami dipagi itu kepada Om Nanang..

Perjalanan dari hotel menuju kaki gunung Papandayan yang berada di ketinggian kurang lebih 2000m dpl lebih kurang 1 jam 30 menit, bukan dikarenakan jaraknya tetapi lebih kepada jalan batuan yang rusak, tanjakan curam dan juga truk pengangkut sepeda tidak mungkin berjalan cepat menghadapi medan seperti itu. Tepat dipertengahan jalan klakson dari Mitsubishi L200 Strada Double Cab memecah kesunyian kami yang tengah menikmati pemandangan, ternyata dibelakang kami rombongan Esia Gowes Bandung yakni Om Yusron dan Om Sabur berada dalam kendaraan Mitsubishi tersebut, dan berkah untuk kami juga karena ternyata disaat terakhir Om Yusron bisa membujuk Tang Mush (Tatang Mustopha), salah satu gowesers dari Bandung yang juga anggota Trabas yang akan menjadi pemandu kali ini.

Bisa dibayangkan, kalau Tang Mush tidak ikut berarti perjalanan hari ini hanya berdasarkan data GPS yang kami peroleh sebelumnya; dan dari beberapa perjalanan sebelumnya ternyata agak sulit mempraktekan data yang ada di GPS dalam kondisi real dilapangan. Bukan salah GPSnya, tetapi pada saat jalan tentunya akan sulit membagi konsentrasi antara baca data dengan kontrol sepeda, terutama pada saat jalan menurun dan dilalui dengan cepat. Yang ada biasanya bablas dan harus balik lagi keatas kalau rutenya terlewat. Terima kasih Om Yusron dan Tang Mush. Segera seluruh sepeda diturunkan, administrasi kepada pengelola area Papandayan sebesar Rp.5,000,-/orang dibayarkan dan photo-photo bersama serta doa dipanjatkan kehadirat Allah SWT sebelum kaki melangkah untuk menggowes sepeda kami.


Titik awal perjalanan Kawah Gunung Papandayan
Titik awal perjalanan di Kawah Papandayan

Mulai dari lokasi start pemandangan kami tertuju pada kawasan perbukitan dan pegunungan yang akan menjadi target kami melintasi pagi itu. Warna putih mengkilap diterpa sinar matahari, ditambah beberapa muntahan asap dari kawah-kawah di seputaran Gunung Papandayan benar-benar membuat kami terpaku dan merenung serta bersyukur dalam hati, ”Betapa besar karunia dan cipataanMU ya Allah, dan ternyata kami sebagai individu yang mungkin merasa besar ditengah lingkungan sehari-hari; benar-benar tidak ada artinya pada saat berada ditengah ciptaan Allah yang begitu besar dan indah..”




Photo 1 : Persiapan 11 pilot sepeda untuk menaklukan Gunung Papandayan dilatar belakang
 


Photo 2 : Persiapan dan rakit sepeda dilokasi parkir wisata Kawah Papandayan

Arahan dari Tang Mush menjadi kenyataan hanya dalam waktu 10 menit gowes, batuan padas dan tajam serta tanjakan terjal terpaksa membuat kami menapakkan kedua kaki ke Bumi alias bersiap mendorong sepeda menuju Puncak Gunung Papandayan ini. Dari data GPS yang kami pegang, pendakian ini dari ketinggian 2000meter dpl (dari permukaan laut) menuju kesalah satu puncak Papandayan diketinggian sekitar 2400 meter dpl. Langit biru cerah, awan putih beriringan perlahan tentu menjadi dasar alasan kami untuk mengambil ratusan photo pada saat pendakian ini. Narsis.com menjadi hal yang lumrah saat satu demi satu anggota berpose dengan beragam latar belakang dan beragam gaya....., putuslah gaya para aktor dan aktris di sinetron kalau melihat antusiasme para peserta dengan gaya masing-masing..




Photo 3 : Hanya padang batu padas yang terlihat sepanjang rute di kawah Papandayan
 


Photo 4 : Berpose sejenak didepan kawah Balagadama dikawasan Gunung Papandayan
 


Photo 5 : Kawah Balagadama dengan sepeda milik salah satu peserta

Disepanjang kawah Papandayan ini Cuma tumbuh sejenis pohon Suwagi, species khas gunung api dengan bentuk tanaman kecil tetapi berdaun kombinasi hijau muda, hijau tua dan merah tua untuk pucuknya yang tumbuh menyembul diantara bebatuan padas. Beberapa kali kami dilewati baik dari arah bawah keatas maupun yang sudah turun dari atas kebawah, para wisatawan baik lokal maupun asing yang mengadakan pendakian / hiking sekaligus menikmati keindahan alam Papandayan dengan Gunung Cikuray disebelahnya. Pendakian ini tidak main-main, mulai dari yang bersudut 20 derajat sampai lebih dari 30 derajat sehingga benar-benar tidak ada kemungkinan untuk menggowes karena medan yang dilintasi juga batuan padas dan lepas serta memang tidak ada track yang bisa dilewati secara mulus. Satu-satunya trick yang dilakukan peserta untuk mengambil nafas disini adalah photo-photo....... Alasannya photo tetapi sebenarnya menarik napas karena sudah terlalu lelah.... ha ha ha....

 






Photo 6-9 : Hanya sebagian sangat kecil yang bisa digowes, lainnya Tun Tun Bike..



Keluar dari Kawah Papandayan
Lepas start dari kawasan parkiran Kawah Papandayan tepat pukul 08.00 pagi, hampir 2 jam kami habiskan dengan memanjat bebatuan Kawah Papandayan bersama sepeda kami, selepas itu kami menemukan satu sungai kecil berair jernih sebelum mulai memasuki jalur tanjakan single track..... Kalau tadi semua kiri kanan hanya bebatuan padas, kali ini kami mulai memasuki kawasan hutan hujan tropis dengan tanaman vegetatif yang didominasi pinus tinggi. Cerita menarik dimulai disini kawan kawan......., jalur pendakian single track ternyata diluar dugaan kami. Tanah merah gembur dan licin dibawah, jalur air persis ditengah dan cekungan yang kadang pas untuk satu orang manusia lewat disertai tanjakan curam benar-benar membuat seluruh peserta berakrobat untuk menaikkan sepedanya ketempat yang lebih tinggi.....



Photo 10 : Om Tommy ditengah hutan hujan tropis setelah area kawah Papandayan



Photo 11 : Merenung setelah melihat kebawah…., kenapa bisa ada disini yah…??



Photo 12 : Merayap, mendorong, menarik sepeda dan ditarik sepeda…, komplit..!!!

Benar-benar seperti sirkus saja gaya TTB (Tun Tun Bike) yang dilakukan para peserta, mulai dari sepeda dituntun dikanan dan pengendara dikiri..., ternyata ketemu medan yang sepeda lebih cocok dituntun dikiri dengan pengemudi dikanan....., kemudian ketemu lagi medan curam dimana tidak muat sepeda dan pengendara berjalan berdampingan dengan tebing curam dikiri dan kanan track....., trus apa yang harus dilakukan agar sepeda dan pengendara tetap jalan maju keatas...??? Terpaksa 3 gaya akrobat dilakukan para peserta...... Gaya pertama sepeda dibawah pengendara....., kaki bertengger ditebing kiri kanan jalan dan perlahan demi perlahan merayap maju dengan berpegangan pada akar pohon yang keluar disela-sela tebing......

Bagaimana gaya kedua....??? Gaya kedua pada saat tidak mungkin pengendara berada diatas sepeda dilakukan dengan cara menarik sepeda.... Pengendara naik dulu kebagian lebih tinggi, duduk ditanah dan sepeda ditarik baik dibagian bodi atau roda agar bisa perlahan mendekati pengendara... Hal ini dilakukan berkali-kali sampai perlahan demi perlahan sepeda naik keatas.... Gaya baru neh man...., Bukan Tun Tun Bike tetapi Tarik Bike......., hampir sama seperti teman2 off road Jeep. 4x4 yang menarik kawannya yang terjebak lumpur dengan winch electric ataupun mekanik; kalau kami melakukannya dengan winch alam alias tangan kanan dan kiri secara bergantian.... hua ha ha ha ha......

Gaya ketiga yang paling uniq dan benar-benar diluar akal sehat...... Caranya dilakukan dalam bentuk sepeda berada didepan pengendara (karena memang medannya tidak memungkinkan untuk beriringan); kemudian pengendara dengan berpegangan tebing dikiri dan kanan mulai mendorong sepeda dengan selangkangannya agar sepeda maju terdorong kedepan yang jalannya menanjak...... Masya Allah.........., berat kali hidup ini yach friend....... Beberapa komentar dari pesertapun keluar dari para peserta.....,”Ini yang namanya praktek 69 gaya bersepeda ala Tarik Bike.......” Hua ha ha ha ha........



Photo 13 : Beritirahat sejenak setelah melewati siksaan bersepeda gaya pendaki gunung


Setelah keluar dari tanjakan Papandayan
Napas mulai lega tatkala kami menemukan tanjakan terakhir sebelum Padang Edelweiss yakni Pondok Selada, beristirahatlah kami sambil mengevaluasi rute yang sudah dilewati... Langsung terbahak-bahak dan seolah tidak percaya sewaktu melihat data di GPS bahwa total moving kami cuma 53 menit, sementara total stop 1 Jam 48 menit dengan total jarak dari start sampai pondok Selada ini cuma 3,83 km saja...!!!! Artinya perlu waktu 2 jam 31 menit hanya untuk menempuh jarak 3,83 km...... He he he...., memang sich, bisa kasih alesan waktu lama karena photo-photo ditepi kawah yang cukup memakan waktu lama, tetapi selain waktu photo-photo ini memang rute yang kami lewati benar-benar kelas AAA alias super berat untuk Tun Tun Bikenya.... Salah satu yang memperberat tanjakan yang kami lewati karena rute normal  banyak yang tertutup longsoran yang jelas terlihat masih belum lama terjadi. Selintas teringat saudara-saudara kami yang terkena musibah longsor di Ciwidey cukup membuat kami kecut juga.

Rute selanjutnya boleh dikata surga untuk penggila Down Hill...., cuma perlu extra hati-hati karena batuan lepasnya sangat licin dan permukaan dari track sama sekali tidak bsia diduga karena ada sebagian masih tertutup batu lepasan, sebagaian tanah merah licin dan sebagian baru permanen  yang ditutupi lumut sehingga licin terutama pada saat berbelok.

Kami masih disuguhi dengan single track ditengah kebun sayur dan kentang milik penduduk. Sedikit musibah ketika ban depan saya terkena Snake Bite dan terpaksa diganti ban dalamnya pinjaman dari Om Andy. Lebih parah Om Eko Ris....., setelah Ban depan pecah, persis dilokasi finish ban belakangnya juga pecah mengikuti ban depannya... Apes.... apes...... Tepat pukul 12 siang saatnya Sholat Jum’at kami tiba disalah satu kampung Cibaratua di wilayah Pengalengan; tentu waktu yang baik ini kami lewati dengan sholat berjamaah dengan penduduk kampung situ, kecuali 2 anggota kami yang beragama nasrani. Tepat pukul 14.30 kami memasuki lokasi finish sesuai rencana di perkebunan teh Santosa di Pengalengan, yang kami tutup dengan makan siang bersama yakni Mie Rebus dan Mie Goreng disalah satu warung di perkampungan penduduk...
    




Photo 14 sampai 16 : Area kebun teh Pengalengan


Photo 17 : Ini dia Tang Mush sang Road Captain kali ini…., thanks yah om…..

Setelah packing sepeda untuk naik ke truk dan kembali ke Jakarta, kami masih sempat meluangkan waktu dengan berendam air panas bersama di Hot Spring Cibolang, tepat diatas Perkebunan Teh Malabar yang terkenal itu..... Benar-benar refreshing setelah 6,5 jam perjalanan mulai dari Papandayan sampai dengan Pengalengan..... Betul-betul meninggalkan kesan yang sangat mendalam; dan penilaian kami seragam untuk track hari ini; Track dengan tanjakan terberat yang pernah kami lalui, tetapi dengan pemandangan yang paling indah yang pernah kami lihat selama ini.....

Sampai jumpa di perjalanan berikut,
Salam gowes,
(www.goesbike.com)


Foto Papandayan part 1















Foto Papandayan part 2