Goesbike - http://www.goesbike.com
Travel Mountain Bike Jakarta Bekasi to Sukabumi, solo biker
http://www.goesbike.com/articles/508/1/Travel-Mountain-Bike-Jakarta-Bekasi-to-Sukabumi-solo-biker.html
Henry Pangemanan
Trainer and Communication
 
By Henry Pangemanan
Published on 6 April 2010
 
Rute Jakarta Bekasi ke Sukabumi dengan sepeda solo. Total 8 jam 32 menit dengan istirahat 2 jam, perjalanan berakhir di kota Sukabumi. Jarak tempuh 105 km lebih. Titik terberat ketika 20 km mendekati kota Sukabumi, dimana jalan menanjak sepanjang 20 km terakhir yang harus dilalui.

Sukabumi yang terletak kurang lebih di selatan-tenggara Jakarta dan kalau ditarik garis lurus dari pusat kota kepusat kota berjarak 115 km adalah kota beriklim sejuk dan mempunyai kontur berbukit-bukit didalam kotanya, dengan ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut.

Pada tahun 1914, pemerintah Hindia Belanda menjadikan kota Sukabumi sebagai Burgerlijk Bestuur dengan status Gemeente dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan yang berada di daerah Kabupaten Sukabumi bagian selatan yang harus mendapatkan pengurusan dan pelayanan yang istimewa.

Kota ini juga dikenal sebagai kota pendidikan polisi, karena Akademi Polisi yang saat ini bertempat di Semarang Jawa Tengah dulunya sempat berpusat di Sukamuni, yang saat ini berubah menjadi SELAPA (Sekolah Lanjutan Polri). Khusus untuk penggemar sepeda dari kota ini terkenal nama Hendrik Brooks yang kemudian berganti nama menjadi Hendra Gunawan; seorang keturunan Jerman – Belanda yang sempat mengharumkan dunia persepedaan di Indonesia era lomba Tour d’Java pertama dan kedua tahun 1958/59 sampai dengan Asian Games 1962 di Jakarta.

Saya ingin mencoba menembuh jalur Bekasi (Jatiasih) ke Sukabumi setelah berhasil melewati track Bekasi – Bandung akhir Desember yang lalu. Persiapan dilakukan dari 2 bulan lalu, dimulai persiapan pertama yakni dengan melakukan survey jarak rute yang akan dilewati, lokasi perkiraan tempat perhentian sementara, kontur trip yang akan dilalui dan tentu akomodasi pada saat tiba di Sukabumi.  Perbandingan survey dilakukan dengan membandingkan hasil searching di google map, dan didapatkan angka antara 105-110 km untuk jarak yang akan ditempuh dari Jatiasih menuju alun-alun Sukabumi sebagai patokan finish trip kali ini.

Persiapan kedua tentunya fisik, mencoba menempuh jarak 50 km pulang pergi dari Bandung sampai Tangkuban Perahu ditambah latihan fisik dirumah setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Pengalaman menjelajah lebih dari 100km sehari yakni pada rute Bekasi – Bogor pp, Bekasi – Cariu pp dan terakhir Bekasi – Bandung tentu membuat lebih percaya diri mampu menjangkau kota Sukabumi dengan sepeda.

Persiapan ketiga tentu sepeda yang akan digunakan beserta perlengkapan tambahan berupa pompa ban, 2 buah ban dalam serep sebagai cadangan, kunci-kunci, vitamin dan obat-obatan pribadi, perlengkapan mandi dan perlengkapan sholat tentunya selain makanan dan minuman berenergi secukupnya. Pemilihan sepeda tentunya diputuskan menggunakan Hard Tail mengingat kondisi jalan on road dan banyak tanjakan yang cukup menguras tenaga. Kali ini saya menggunakan sepeda Hard Tail Giant ATX 7 yang saya panggil sebagai “Black Cobra”, dengan menggunakan ban Maxxis Ignitor 26x1.95. Cranck menggunakan Shimano XT, demikian pula FD, RD, Rantai, Shifter dan Cassete menggunakan merek dan type yang sama yakni Shimano XT. Untuk rem masih menggunakan Shimano non series hydraulic brake dengan rotor Bengal 180mm (7 inch).

Etappe 1 : Bekasi - Bogor
Cuaca cerah tanpa awan ketika roda Black Cobra menyentuh aspal depan rumah tepat pukul 06.00 pagi, Jum’at 2 April 2010. Dari Jatiasih rute yang dilalui melewati Jalan Raya Hankam yang tembus melintasi Trans Yogi dan ambil lurus arah Cibinong… Tak disangka ketika melewati Jalan Raya Hankam sebelum Trans Yogi tiba-tiba ada yang menegur dengan suara cukup keras dikanan saya, “Selamat pagi pak…, apa kabar…????” Sontak saya menoleh kekanan dan tampak seorang bule totok dengan sepeda Specialized full suspension (saya lupa typenya) tersenyum hangat kearah saya.

“Bapak mau kemana….???” sapanya dengan ramah menggunakan bahasa Indonesia yang sangat bagus, mungkin karena melihat perlengkapan saya bukan seperti bersepeda jarak dekat dengan ‘gembolan’ ransel dengan berat hampir mencapai 4 kg dipunggung saya ditambah tas pinggang untuk menyimpan dompet, HP dan Blackberry serta kamera.  “Ooh…, saya hendak pergi ke Sukabumi pak…., bapak hendak kemana….???” jawab saya sambil menoleh dan memperhatikan si bule yang ternyata membawa ransel lebih besar juga dipunggungnya

“Saya mau ke Bali pak, hari ini tujuan saya ke Bandung dulu….!!!” Jawab si Bule tenang… Tiba-tiba ingatan saya melayang ke bulan February saat ketemu dengan Mr. Garry dari Nokia Indonesia di Rindu Alam; yang saat itu beliau cerita mau sepedaan sampai ke Bali dari Jakarta dalam waktu 14 hari..!!! Wah, ini dia nich orangnya pikir saya sambil langsung menyapanya lagi “Sorry, apa betul anda Mr. Garry dari Nokia Indonesia…??, Kalau iya saya Henry yang ketemu dengan anda di Rindu Alam beberapa bulan yang lalu…..” sapa saya dengan hangat… “Oh iya, saya ingat Pak Henry…., anda bertemu dengan saya bersama beberapa teman anda dan saya sendiri saat itu…..!!!!” ha ha ha ha……….. berbarengan kami tertawa terbahak, sempat kecut dan malu juga karena saya ingat a waktu ketemu dulu itu pas kebetulan group saya lagi pake joki di Ngehe 2 dan si bule ketawa waktu lihat kita panik karena sepeda tidak datang-datang walau sudah ditunggu lebih dari 1 jam…

Sungguh pertemuan yang sangat unik dan tidak direncanakan sebelumnya…, setelah sempat bercerita pengalaman masing-masing beberapa saat kami berjumpa sebelum bertemu dengan perempatan jalan raya Hankam dengan jalan Trans Yogi. Disinilah kami berpisah karena Mr. Garry belok kekiri arah Cileungsi – Jonggol – Cariu – Padalarang – Bandung; sementara saya menyebrang Trans Yogi karena mengarah ke Cibinong dengan melewati jalan perkampungan. Sampai jumpa Mr. Garry, have a nice and safety trip….

Picture 1 : Kenangan beberapa bulan lalu saat bertemu dengan Mr.Garry di track Rindu Alam.




Dari Trans Yogi saya ambil jalan lurus sampai bertemu dengan terowongan tepat dibawah tol Jagorawi, kemudian ambil kekanan sampai bertemu dengan pertigaan;. Saya ambil kiri melewati Rumah Makan Kalimantan dengan menu khasnya Patin Bakar Bambu…… hmmmmm, sayang pagi itu masih belum buka dan memang tidak memungkinkan sarapan pagi dengan ikan pedas.

Picture 2 : pemberhentian pertama di Jalan Raya Bogor sekitar Cilodong, 30 km dari starting point, ransel dengan berat lebih dari 3 kg ikut berpose…



Masuk kota Bogor masih sepi sekali, padahal matahari sudah mulai tinggi saat jam menunjukkan pukul 08.30 pagi waktu sempat saya bersitirahat disekitar Rumah Sakit PMI Bogor. Belum ada tantangan dalam bentuk tanjakan berarti sampai bertemu dengan jalan raya Tajur.

Picture 3 : Suasana Bogor di tepi Kebun Raya hari Jum’at pagi 2 April 2010.




Etappe 2 : Bogor - Cibadak
Jalan Raya Tajur tempat sentra outlet sepatu, baju dan tas yang banyak diminati oleh ibu-ibu dan menghubungkan kota Bogor dengan Ciawi benar-benar merupakan tantangan pertama untuk pesepeda. Jalur sepanjang lebih kurang 6-7 km ini mempunyai karakteristik tanjakan antara 15-20 derajat tetapi dalam jarak yang panjang dan tanpa pohon pelindung disisi kira dan kanannya. Cukup menyiksa melewati jalur ini pada saat matahari sudah meninggi.

Tantangan kedua untuk mencapai Sukabumi setelah tanjakan Tajur adalah rute Ciawi sampai Sekolah Polisi Negara Lido. Mengapa disebut tantangan…?? Karena selain rutenya tanjakan menyerupai Tajur, tetapi lebar jalurnya hanya cukup untuk 2 kendaraan besar berpapasan… Tentunya tidak ada jalan lain kecuali sepeda turun dari aspal dan gowes dibebatuan lepas disisi kiri jalan. Belum tantangan dari sepeda motor dan angkot yang tanpa sungkan juga ikut turun kebahu jalan tanpa aspal dan setiap saat siap menyeruduk pesepeda yang tentu mempunyai batas kecepatan sangat terbatas mengingat tanjakan cukup curam, batuan lepas ditambah sesak napas karena asap kendaraan umum terutama bus dan truk besar. Disini jalur betul-betul sudah padat dan semua kendaraan harus merayap naik secara bersama-sama.

Sarapan pertama di Indomaret km 53 dari titk start berupa roti coklat keju, coklat silver queen dan minuman manis cukup memberikan extra tenaga untuk melewati mulai dari SPN Lido, Cigombong, Cijeruk sampai bertemu lintasan kereta api sebelum pertigaan kearah Cidahu. Rute ini benar-benar merupakan tantangan ketiga karena tanjakan dalam jarak cukup jauh, tetapi enaknya jalur sudah mulai lebar sehingga tidak perlu harus turun dari aspal lagi. Tetapi tetap harus waspada karena kendaraan umum baik Truk, Bus, Angkot maupun L-300 rute Bogor – Sukabumi dengan tenang sering berhenti tiba-tiba didepan kita…. Sampai saat ini perbandingan tanjakan dan turunan adalah tanjakan 90% dan turunan 10% saja. Siap-siap mental selain fisik untuk menghadapi tantangan ini.

Setelah melewwati perlintasan kereta api dan pertigaan Cidahu mulailah situasi berbalik. 70% turunan dan hanya 30% tanjakan tidak terlalu curam yang dihadapi sampai bertemu dengan kota kecil Cibadak. Sebelumnya kita bertemu dengan Cimelati yang tahun 1970an terkenal dengan pemandiannya serta Taman Angsa yang cukup banyak juga dikunjungi para wisatawan lokal. Kemudian sebelum sampai kota kecil Cibadak tepat disebelah kanan jalan kita bisa menjumpai monument Palagan Bojongkokosan, yang memperingati penyergapan yang dilakukan oleh TNI kepada konvoy pasukan belanda yang mempergunakan panser tepat diwilayah tersebut pada tahun 1945.

Picture 3 : Monumen Palagan Bojongkokosan Parungkuda
 


Etappe 3 : Cibadak – Sukabumi
Setelah melewati Monumen Palagan Bojongkokosan tibalah dikota kecil Cibadak, dimana ada pertigaan mengarah ke Pelabuhan Ratu dari kota Cibadak ini. Sempat terajdi insiden kecil, ketika sedang macet-macetnya ditengah kota dan harus menurunkan kaki ternyata kaki kanan kraam dan berasa tertarik otot mulai dari mata kaki sampai paha…. Astagfirullah, untuk tidak sampe jatuh dari sepeda, tetapi dengan perlahan sepeda saya seret ke tepi jalan untuk menepi dan meluruskan kaki yang sempat tegang. Hampir 30 menit dihabiskan untuk mengurut kaki, minum sepuasnya dan mengganjal perut kembali dengan Roti dan Coklat.
Odometer sudah menunjukkan jarak 87 km dari starting point, matahari masih terik bersinar sekitar pukul 15.00 siang itu. Semangat……!!!! Dari tugu tapal batas ditepi jalan jelas tertera 20 km lagi sampai di Sukabumi… The Show must go on…, tidak ada jalan untuk kembali…… Dengan tertatih dan menahan sakit kembali saya paksakan menggowes Black Cobra dijalan tanjakan mulai dari Pasar Cibadak sampai kekota Sukabumi. Dua jam lebih ditempuh hanya untuk menyelesaikan jarak 20 km tersisa ini, karena selain tanjakan yang dcukup panjang juga kondisi kaki yang sudah menurun jauh.
Siksaan belum berakhir ketika plang kota Sukabumi tampak, tetapi kontur jalan didalam kota yang terus mendaki sampai ke Wisma Anugerah tempat base camp malam itu benar-benar tidak memberi napas untuk ada jeda menggowes. Akhirnya setelah melewati Kompleks Selapa Polri yang dulunya Akademi Kepolisian RI akhirnya sekitar pukul 17.00 tibalah saya di Wisma Anugerah Jalan Raya Selabintana. Total jarak 105 km, total gowes 8 jam 32 menit dan total istirahat lebih dari 2 jam benar-benar melelahkan dan membuat malam harinya tertidur pulas setelah sempat menikmati Gado-Gado dan Es Campur diseberang Jogja Plaza dipusat kota Sukabumi.


Picture : Suasana pusat kota Sukabumi yang sepi





Sampai jumnpa dikisah perjalanan berikutnya
2 April 2010