Dari Trans Yogi saya ambil jalan lurus sampai bertemu dengan terowongan tepat dibawah tol Jagorawi, kemudian ambil kekanan sampai bertemu dengan pertigaan;. Saya ambil kiri melewati Rumah Makan Kalimantan dengan menu khasnya Patin Bakar Bambu…… hmmmmm, sayang pagi itu masih belum buka dan memang tidak memungkinkan sarapan pagi dengan ikan pedas.

Picture 2 : pemberhentian pertama di Jalan Raya Bogor sekitar Cilodong, 30 km dari starting point, ransel dengan berat lebih dari 3 kg ikut berpose…



Masuk kota Bogor masih sepi sekali, padahal matahari sudah mulai tinggi saat jam menunjukkan pukul 08.30 pagi waktu sempat saya bersitirahat disekitar Rumah Sakit PMI Bogor. Belum ada tantangan dalam bentuk tanjakan berarti sampai bertemu dengan jalan raya Tajur.

Picture 3 : Suasana Bogor di tepi Kebun Raya hari Jum’at pagi 2 April 2010.




Etappe 2 : Bogor - Cibadak
Jalan Raya Tajur tempat sentra outlet sepatu, baju dan tas yang banyak diminati oleh ibu-ibu dan menghubungkan kota Bogor dengan Ciawi benar-benar merupakan tantangan pertama untuk pesepeda. Jalur sepanjang lebih kurang 6-7 km ini mempunyai karakteristik tanjakan antara 15-20 derajat tetapi dalam jarak yang panjang dan tanpa pohon pelindung disisi kira dan kanannya. Cukup menyiksa melewati jalur ini pada saat matahari sudah meninggi.

Tantangan kedua untuk mencapai Sukabumi setelah tanjakan Tajur adalah rute Ciawi sampai Sekolah Polisi Negara Lido. Mengapa disebut tantangan…?? Karena selain rutenya tanjakan menyerupai Tajur, tetapi lebar jalurnya hanya cukup untuk 2 kendaraan besar berpapasan… Tentunya tidak ada jalan lain kecuali sepeda turun dari aspal dan gowes dibebatuan lepas disisi kiri jalan. Belum tantangan dari sepeda motor dan angkot yang tanpa sungkan juga ikut turun kebahu jalan tanpa aspal dan setiap saat siap menyeruduk pesepeda yang tentu mempunyai batas kecepatan sangat terbatas mengingat tanjakan cukup curam, batuan lepas ditambah sesak napas karena asap kendaraan umum terutama bus dan truk besar. Disini jalur betul-betul sudah padat dan semua kendaraan harus merayap naik secara bersama-sama.

Sarapan pertama di Indomaret km 53 dari titk start berupa roti coklat keju, coklat silver queen dan minuman manis cukup memberikan extra tenaga untuk melewati mulai dari SPN Lido, Cigombong, Cijeruk sampai bertemu lintasan kereta api sebelum pertigaan kearah Cidahu. Rute ini benar-benar merupakan tantangan ketiga karena tanjakan dalam jarak cukup jauh, tetapi enaknya jalur sudah mulai lebar sehingga tidak perlu harus turun dari aspal lagi. Tetapi tetap harus waspada karena kendaraan umum baik Truk, Bus, Angkot maupun L-300 rute Bogor – Sukabumi dengan tenang sering berhenti tiba-tiba didepan kita…. Sampai saat ini perbandingan tanjakan dan turunan adalah tanjakan 90% dan turunan 10% saja. Siap-siap mental selain fisik untuk menghadapi tantangan ini.

Setelah melewwati perlintasan kereta api dan pertigaan Cidahu mulailah situasi berbalik. 70% turunan dan hanya 30% tanjakan tidak terlalu curam yang dihadapi sampai bertemu dengan kota kecil Cibadak. Sebelumnya kita bertemu dengan Cimelati yang tahun 1970an terkenal dengan pemandiannya serta Taman Angsa yang cukup banyak juga dikunjungi para wisatawan lokal. Kemudian sebelum sampai kota kecil Cibadak tepat disebelah kanan jalan kita bisa menjumpai monument Palagan Bojongkokosan, yang memperingati penyergapan yang dilakukan oleh TNI kepada konvoy pasukan belanda yang mempergunakan panser tepat diwilayah tersebut pada tahun 1945.

Picture 3 : Monumen Palagan Bojongkokosan Parungkuda
 


Etappe 3 : Cibadak – Sukabumi
Setelah melewati Monumen Palagan Bojongkokosan tibalah dikota kecil Cibadak, dimana ada pertigaan mengarah ke Pelabuhan Ratu dari kota Cibadak ini. Sempat terajdi insiden kecil, ketika sedang macet-macetnya ditengah kota dan harus menurunkan kaki ternyata kaki kanan kraam dan berasa tertarik otot mulai dari mata kaki sampai paha…. Astagfirullah, untuk tidak sampe jatuh dari sepeda, tetapi dengan perlahan sepeda saya seret ke tepi jalan untuk menepi dan meluruskan kaki yang sempat tegang. Hampir 30 menit dihabiskan untuk mengurut kaki, minum sepuasnya dan mengganjal perut kembali dengan Roti dan Coklat.
Odometer sudah menunjukkan jarak 87 km dari starting point, matahari masih terik bersinar sekitar pukul 15.00 siang itu. Semangat……!!!! Dari tugu tapal batas ditepi jalan jelas tertera 20 km lagi sampai di Sukabumi… The Show must go on…, tidak ada jalan untuk kembali…… Dengan tertatih dan menahan sakit kembali saya paksakan menggowes Black Cobra dijalan tanjakan mulai dari Pasar Cibadak sampai kekota Sukabumi. Dua jam lebih ditempuh hanya untuk menyelesaikan jarak 20 km tersisa ini, karena selain tanjakan yang dcukup panjang juga kondisi kaki yang sudah menurun jauh.
Siksaan belum berakhir ketika plang kota Sukabumi tampak, tetapi kontur jalan didalam kota yang terus mendaki sampai ke Wisma Anugerah tempat base camp malam itu benar-benar tidak memberi napas untuk ada jeda menggowes. Akhirnya setelah melewati Kompleks Selapa Polri yang dulunya Akademi Kepolisian RI akhirnya sekitar pukul 17.00 tibalah saya di Wisma Anugerah Jalan Raya Selabintana. Total jarak 105 km, total gowes 8 jam 32 menit dan total istirahat lebih dari 2 jam benar-benar melelahkan dan membuat malam harinya tertidur pulas setelah sempat menikmati Gado-Gado dan Es Campur diseberang Jogja Plaza dipusat kota Sukabumi.


Picture : Suasana pusat kota Sukabumi yang sepi





Sampai jumnpa dikisah perjalanan berikutnya
2 April 2010