Setelah sholat Jum’at di Masjid Alghina desa Londok kami bersiap untuk menyelesaikan trek ke 2 hari ini.
Tetapi ada cerita lucu disini, kurang lebih 15 menit setelah kami sampai di Desa Londok, dibelakang terdapat rombongan motor trail. Plat nomor dan bahasa ridersnya dapat ditebak asal Bandung. Kurang lebih antara 8 – 10 motor mulai dari Suzuki TS, Kawasaki KLX 150 sampai Kawasaki KLX 250 yang kami perhatikan semua pengendara dengan perlengkapan penuh alias siap tempur untuk menghadapi track ke Cihalimun.
Kami sempat ngobrol sebentarm ternyata ada dari rombongan pengendara trail juga mengenal team pendamping dari motor serta Sweeper kami (gak heranlah, karena sama sama dari Bandung kan..). Dari obrolan singkat mereka sampai lebih dari 1 kali team motor trail menanyakan :
“Ini rombongan sepeda serius mau berangkat ke Cihalimun dan lanjut ke Cidaun…????
” Seolah tidak percaya mereka melihat kondisi kami dengan sepeda, sementara mereka sendiri tahu betul bahwa kondisi jalan yang akan dilalui terutama dimusim hujan ini benar-benar jalur parah. Jawaban dari om Tjetje dan om Tang Mush buat kita tenang, “Kita lihat saja bahwa dihutan nanti kecepatan sepeda dan motor trail tidak akan terpaut jauh, semua perbedaan pasti karena ketrampilan dan jam terbang pengendara saja…..”
Benar saja, tidak sampai 30 menit kami gowes keluar dari Desa Londok tepat jam 13.00; ternyata hutan lebat sudah menanti kami… Apa yang ada didepan kami sepanjang perjalanan 19,58 km dengan kontur 40% turunan dan 60% tanjakan
yang ada hanya lumpur, lumpur dan lumpur tanah dari jalan naik turun naik, semuanya lumpur.
Sebagian besar jalanan yang kami lewati seperti dibajak menjadi bubur lumpur basah karena bekas-bekas roda motor trail yang menggaruk dan melembekkan setiap jejak ban mereka. So…, untuk kami memang tidak ada pilihan selain ikuti saja alur-alur bekas motor trail


Cahaya matahari dibeberapa tempat benar-benar tidak tembus karena terhalang pohon, bahkan keadaan didalam seperti pukul 18.00 sore walaupun kami tidap pada jam 14.00 siang ketika kami mulai menembus hutan dengan lebih dalam.
Lumpur didaerah ini ternyata lumpur abadi, dalam artian baik musim hujan maupun musim kemarau tetap becek karena matahari yang tidak bisa tembus sampai ketanah dibeberapa bagian… Mulailah terngiang-ngiang ucapan dari Om Budi sewaktu masih di Jakarta…, “tidak disarankan masuk track disini saat musim hujan….!!!” . Loh ini musim hujan atau musim kemarau, sama saja.
Hujan mulai mengguyur dengan deras tepat pukul 14.30 sampai pukul 17.00 benar-benar membuat perjalanan semakin sulit. Jebakan batman berupa jalur dengan air diatasnya yang ternyata cukup dalam dan membuat kaki terperosok sampai kebawah lutut. Teman lain juga mulai jungkir balik atau terbanting kelumpur beberapa kali.
Bisa dibayangkan, 5 km pertama jalur ditempuh dalam waktu 2 jam, dari pukul 13.00 sampai pukul 15.00; yang berarti kecepatan rata-rata cuma 2,5 km/jam atau separuh dari kecepatan orang jalan kaki…!!!!
Bagaimana dengan pemandu kami serta Om Ade dan Om Iyek yang mengawal kami dengan motor trailnya…???
Kondisinya sama saja…. Beberapa kali juga baik sepeda maupun motor terjatuh karena licinnya medan yang dijalani serta tanjakan terjal yang tidak kenal ampun. Apa yang kami baca dari informasi yang pernah mencoba jalur sepeda ini mulai terjadi di team kami.
Kalau dua jam pertama masih pada bersemangat dan teriak-teriak seperti kesetanan apalagi kalau menemukan turunan perosotan, lama kelamaan tawa riang mulai berubah menjadi diam…., diam menjadi cemberut….., cemberut menjadi ngomel pelan-pelan dan memaki… sampai tingkat paling berat adalah tidak menjawab semua pertanyaan dari anggota team lainnya……. Ha ha ha ha ha………… Believe its or not….., ini kejadian bro….., jarak kurang dari 1 meter dan ditanya keras-keras sudah tidak dijawab lagi mungkin saking pusing melihat medan yang luar biasa
Bayangkan saja, tidak sampai 2 atau 3 menit gowes sudah harus turun lagi dan dorong sepeda karena lumpur yang menempel dan merubah ban menjadi donat. Bahkan RD, Rantai, Caliper dan Piston rem benar-benar tertutup sempurna dengan tanah merah.
Ingin telpon keluarga, boro-boro ada signal. Asli, semua signal dari semua operator yang ada ditengah hutan lebat tersebut menghilang.



Perjalanan masih terhadang oleh ban kempes 2 kali yang dialami sepeda om Reinhart tepat ditengah hujan, angin dan petir. Suasana jadi serius ketika Pukul 17.00 matahari mulai tidak tembus sama sekali kedalam hutan dan kami mulai menyalakan lampu sepeda.

Sampai akhirnya setelah melewati turunan berbatuan lepas yang cukup curam maka sampailah kami di Desa Cihalimun antara pukul 17.00 untuk peserta pertama (Om Yopi dan Om Budi) sampai peserta terakhir masuk pukul 18.30… Lima setengah jam masuk kehutan tanpa bertemu seorangpun, selain rombongan kami….
Gilanya lagi Om Yopi dan Om Budi sempat menyalip beberapa pengendara motor trail yang berangkat jauh lebih dulu dari kami saat bertemu di Desa Londok, sehingga sepeda tiba lebih dulu didesa Cihalimun didepan pengendara Motor Trail…!!!!
Desa Cihalimun pada bagian yang berbatasan dengan gunung Halimun langsung cuma ada 5-6 rumah panggung kayu, dan karena rumah utama sudah ditempati oleh rombongan motor trail yang datang duluan dan juga menginap dikampung ini, maka kami menempati rumah panggung kedua dengan luas lebih kurang 60-80 meter persegi dan kami tidur berdempetan diruang tengah dengan alas kasur tipis dan matras yang memang sengaja kami bawa untuk persiapan kalau terpaksa harus bermalam dihutan. Beruntung kami sampai dikampung Cihalimun ini sehingga tidak perlu terlalu lama ataupun bermalam dihutan, dibandingkan rombongan sepeda lain yang pernah melewati jalur ini ternyata harus menginap dihutan.
Sebelum tidur tentu mandi. Seperti apa kamar mandinya….???? Hua ha ha ha ha…………, jadi teringat salah satu kawan di Jakarta yang tidak jadi berangkat karena tidak yakin dengan kamar mandi ditempat penginapan di Cihalimun…. Ternyata kamar mandinya adalah tempat terbuka dengan pancuran air bambu yang didapat dari kali kecil.
Karena tidak ada pilihan segera kami bergegas mandi disaat udara mulai dingin. Waktu sudah menunjukkan diatas pukul 19.00 saat kami bergantian mamdi malam itu. Untuk yang buar air besarpun terpaksa berjalan agak jauh kearah hutan, dan bisa melepaskan hajatnya dikali yang bening tadi sambil menyaksikan hutan lebat dibelakang kita….. Siap terima tantangan seperti ini kawan…..???? Ayo dicoba….!!!!!
Kami serempak tidur pukul 20.15 saking capeknya setelah disuguhi makan malam ayam bakar dan ikan mas dengan nasi hangatnya
Pagi buta sekitar jam 04.00 subuh beberapa teman sudah terbangun, karena takut tidak kebagian air dipancuran maka saya menjadi peserta pertama yang mandi pagi itu setelah sempat mencuci sepeda dulu ala kadarnya sebelum menyelesaikan track hari sabtu, 29 May 2010 itu. Setelah itu bergantian para gowesers serta riders motor trail menggunakan pancuran yang sama untuk mandi dan membersihkan diri termasuk mencuci sepeda.
Sebelum berangkat jam 9 pagi kami sempat ngobrol dengan Aki (kakek) Udin, yang mengaku penduduk asli Cihalimun dan kelahiran tahun 1930 (sudah berusia 80 tahun artinya tahun ini). Beliau cerita bagaimana keadaan jaman Belanda dulu, jaman pendudukan Jepang, apa mata pencaharian utama desa Cihalimun dan bagaimana mereka mendapatkan bahan pokok dari luar kampung seperti gula, tepung, minyak, pakaian dll. Ternyata setiap pagi ada motor khusus yang sudah dimodifikasi oleh penduduk untuk mengangkut hasil bumi dari Cihalimun ke Londok dan Cidaun. Satu motor bisa mengangkut sampai 1 kwintal (100 kg) beras dengan kondisi jalan yang benar-benar curam dan licin….!!!
Lebih kaget waktu kami dengar cerita dari Pak Udin, bahwa baru dalam beberapa bulan lalu mereka sempat meracun Macan tutul yang sudah memangsa 15 ekor ternak (kambing dan domba) milik penduduk. Kata Pak Udin kalau tidak memangsa ternak penduduk sudah pasti mereka tidak akan memburu macan itu. Panjang macan dengan ekornya kurang lebih 2 meter…., langsung bergidik kami membayangkan bahwa hutan tempat kami lewat kemarin ternyata masih banyak macan tutul, macan kumbang, meuncak, babi hutan dan berbagai satwa liar lainnya….. Sekali lagi untung kami tak sampai menginap di hutan malam kemarinnya….