NIGHT RIDE (NR) sebenarnya hal biasa, yang menjadi luar biasa apabila perjalannya dijadikan acara rutin tahunan. Riders yang sudah mengalami "kejenuhan" akan mencari hal-hal baru. Ini terjadi pada komunitas sepeda H4 (Ha Ha Hi Hi), komunitas yang didirikan pada tahun 2000 dengan ciri khas dari candaan dan celaannya sesuai slogan mereka "no recet".
Jalur RA klasik sudah lama menjadi ajang pelepasan adrenalin para penggemar sepeda gunung. Jalur ini punya julukan tenar "jalur Master C Downhill". Memacu sepeda sekencang-kencangnya antara PosKo warung Mang Ade sampai pabrik teh Gunung Mas. Masih kurang puas dengan petualangan di siang hari, dan juga dengan datangnya bulan Ramadhan, dimana gowes di siang hari menjadi tidak nyaman lagi, maka 5 thn lalu dimulailah ritual gowes malam hari di bulan Ramadhan. Dengan puncak acara yang khas yaitu masak-masak dan api unggun di saung setelah tanjakan-tanjakan selepas gerbang Taman Safari.
Bersepeda di malam gelap dan dibantu penerangan sorot lampu kecil memberikan pengalaman yg berbeda...jalan single track, becek, turunan, dan semak hutan membuat sensasi makin tinggi. Apalagi dengan kecepatan tinggi. Penyesuaian mata dan panca indra banyak membuat kelucuan-kelucuan. Jatuh, keberatan ransel, kehilangan keseimbangan, ban bocor... membuat makin semarak NR di Puncak ...
Pada malam Minggu 21 Agustus 2010, tepat saat bulan hampir mencapai purnama penuh, beberapa komunitas (H4, om Ayong dkk-gank Klender, Puncak Explorer) juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati sensasi NR yang luar biasa itu. Walau sore harinya Puncak dilanda hujan lebat tidak menyurutkan tekad kami semua untuk menjalankan ritual NR di RA. Beruntunglah dalam perjalanan kami menuju PosKo warung Mang Ade tepat jam 20.30 hujan berhenti.

Langit mulai kembali cerah dan bulan purnama mulai menampakan wajah indahnya. Sekitar jam 21.00, setelah memanjatkan doa pada Yang Maha Esa untuk keselamatan perjalanan kami, maka kami mulai petualangan NR. Jalan becek akibat hujan tidak menjadi halangan, malah menjadi tantangan extra yang membuat NR kali ini lebih menegangkan. Baru berjalan beberapa menit sudah ada rider yang terjungkal masuk semak-semak, seperti biasa seraya menolong yg jatuh kami tertawa berolok-olok, memberi semangat pada kawan ini agar lebih berhati-hati.
Foto di Paralayang

Jam 21.30 kami mulai memasuki hutan bak kontrol, yang saat siang hari pun merupakan bagian yang paling disegani para riders, tapi di malam hari justru menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melewatinya. Cahaya lampu menerangi rimbun tanaman sekeliling kita, bagai bersepeda dalam kurungan alam yang bergerak bersama kita. Tak terbayangkan kami mendapat sensasi seperti ini sebelumnya. Salah satu teman kami kembali terjungkal dengan diiringi gelak tawa dari teman2 yang lain.

Satu jam kemudian kami keluar dari hutan dan mulai memasuki jalur double track panjang yang akan berakhir di Pabrik Teh Gunung Mas. Di jalur ini kami dapat memacu sepeda sekencang mungkin, dengan tetap menjaga keseimbangan dan memperhatikan jarak pandang yang terbatas pada sorotan lampu-lampu yang kami gunakan. Di bagian ini semua lolos dengan baik.
Jam 23.00 tibalah kami di Pabrik Teh Gunung Mas. Tidak seperti biasanya di siang hari, kami sama sekali tidak bertemu seseorang pun disini, tak ada pedagang makanan, tak ada pengunjung lain. Setelah istirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan menuju gerbang Taman Safari.
Sama seperti di Pabrik Teh, jangankan joki dan ojek yang biasa mangkal disini, tak ada seorang pun disini kecuali penjaga pos Taman Safari. Tak berlama-lama kami segera lanjutkan perjalanan menuju tanjakan Ngeh* yang selalu jadi tantangan terberat bagi dalam jalur ini. Mungkin terdorong semangat membayangkan api unggun dan makanan lezat jika mencapai Saung seng, nanjak kali ini tidak terasa begitu berat, mungkin juga karena tak ada terik matahari membakar kulit. Tak sampai satu jam kami semua telah mencapai Saung satu.
Segera om Eko Yul dari H4, master kuliner NR ini bersama kawan2 menyalakan api unggun. Segera pula kehangatan dan kegembiraan terpancar. Sambil menikmati hidangan seadanya namun super nikmat (lapar kali ya) kami saling bercanda, dan seperti biasa saling mencela untuk mengangkat semangat petualangan masing-masing. Sungguh suatu suasana yang tak akan bisa didapatkan di perjalanan siang hari. Sesi fotografi juga berlangsung seru. Hasil foto yang luar biasa artistik, efek dari cahaya api unggun dan lampu2 di kejauhan, membuat hati kami semua tambah senang.

Sayang kegembiraan ini harus berakhir karena kami harus mengejar waktu sahur. Hidangan sahur nikmat menanti di Resto Padang Pondok Indah Gadog dan Cisarua. Karena beberapa dari kami parkir kendaraan di Cisarua, maka rombongan harus berpisah ke tujuan masing-masing. Rombongan H4 menuju parkiran di Gadog, yang lainnya akan mengambil jalur cepat menuju Cisarua. Tapi sebelum berpisah kami disuguhi turunan panjang jalur kondangan, yang ternyata lebih seru jika dilalui di malam hari. Dan bagi kami yang menuju Cisarua, ada bonus jalur single track super licin desa Citeko. Ini petualangan yang luar biasa, pengalaman yang tak terlupakan......
Ini para niteride di Saung Ngehe 1.