
Untuk pengujian, dibandingkan dengan 2 buah lampu tipe Cateye HL EL530 secara bersamaan.
Hasilnya seperti gambar dibawah ini.
Pada sinar dibagian kiri berwarna sedikit kuning mengunakan baterai Alkaline, sedangkan sinar lebih putih mengunakan baterai NiMH dengan voltase lebih rendah.
Perbedaan sinar lampu bisa dijadikan indikator menurunnya performa baterai bila lampu mengunakan jenis baterai Alkaline. Tetapi untuk baterai Rechargeable seperti NiMH memang lampu akan bersinar lebih putih karena voltase yang ada memang lebih rendah dibandingkan baterai Alkaline. Kinerja lampu High Density LED pada sepeda akan sedikit redup bila mengunakan baterai rechargeable,
Apakah baterai NiMH tidak disarankan untuk meningkatkan performa output dari lampu LED. Hal ini tidak mutlak. Mengandalkan baterai Alkaline memang lebih terang, tetapi pemakaian secara periodik akan lebih mahal karena tidak bisa di isi ulang dibanding baterai NiMH Sedangkan NiMH harus dinikmati apa adanya sesuai kekuatan output 1.2V, mengingat voltage yang ada pada baterai NiMH lebih rendah dibanding baterai Alkaline.
.

Untuk membandingkan dampak pada tingkat cahaya antara pemakaian jenis baterai NiMH dan Alkaline.
Pada gambar dibawah ini terlihat sisi sinar Alkaline lebih terang dan spot lebih lebar dibagian dalam. Sedangkan sisi kanan dengan baterai NiMH memiliki spot warna putih dengan titik tengah tidak seterang dari lampu yang mengunakan baterai Alkaline.
Hasil perbandingan sinar lampu HL EL530, Alkaline Baterai ( <- Left), NiMH Baterai (Right ->) - (jarak 3 meter) Click for detail
Kesimpulan dari pemakaian 2 jenis baterai
Kualitas cahaya dari lampu sepeda dengan High Density LED dipengaruhi oleh tegangan baterai. Walaupun selisih tegangan dari baterai NiMH (1.2V) dan Alkaline (1.5V) memiliki perbedaan 0.3V dari masing masing baterai. Tetapi tidak banyak banyak menurunkan kualitas dari sinar lampu LED itu sendiri. Umumnya tegangan lampu LED memiliki default 3.7V untuk model 1W, sehingga masih bisa diberikan daya dari baterai standar NiMH dan Alkaline dengan tegangan 4.8V - 6V. Sementara voltage dari baterai ke lampu akan dijaga oleh driver chip secara kontan memberikan maksimum voltage 3.6V baik untuk driver resitor atau chip regulator
|
Baterai
|
Alkaline
|
NiMH
|
|
Dampak perbedaan voltase |
Maksimum
kemampuan output High Density LED dapat dicapai secara maksimal. |
Relatif lebih rendah, tetapi dapat diterima. |
|
|
Sekali pakai |
Dipakai berulang ulang |
|
|
Output masing masing baterai lebih tinggi. Dengan standar >
1.5V
|
Daya tahan tergantung kapasitas dan charger baterai dengan
output antara 1.2V - 1.4V. |
|
|
Relatif lebih mahal karena sekali pakai saja. |
Lebih hemat untuk pemakaian periodik |
|
|
Power output dapat bertahan lebih lama. |
Power output harus di isi ulang secara berkala.
(kecuali versi Eneloop)
|
Tambahan tentang teknologi tahanan atau regulator pada lampu High Density LEDAda perbedaan teknologi dari lampu sepeda dengan teknologi High Density LED. Lampu LED kekuatan sinar lumen rendah umumnya mengunakan tahanan elektronik berupa resistor. Sedangkan lampu sepeda dengan sinar sangat terang atau diatas 200 lumen umumnya mengunakan sirkuit board untuk voltage regulator.
LED dengan tahanan resistor dirancang lebih lama menyala dan lebih hemat, kekurangan kekuatan sinar lebih rendahUntuk lampu sepeda mengunakan baterai biasa berukuran AA, AAA atau Recharger Ni-MH. Lampu jenis tersebut umumnya dirancang menyala lebih lama. Mengunakan resistor untuk menurunkan tegangan voltase baterai DC agar sesuai dengan LED. Ketika anda mengunakan baterai Ni-MH dengan voltase lebih rendah, maka output voltase baterai ke lampu LED juga menurun. Walau tidak terlalu besar (penurunan dari 6V ke 4.8V), membuat sinar lampu LED akan terlihat lebih redup. Umumnya lampu dengan tahanan resistor mengunakan kekuatan 100-200 lumen. Semakin lemah kekuatan baterai akan menurunkan kekuatan cahaya.
Sirkuit resistor umumnya digunakan karena lebih murah dan masih memadai sebagai penahan arus dari baterai untuk LED yang memakai power ampere rendah.
Resistor diperlukan untuk lampu, agar power baterai tidak langsung terhubung ke power LED. Dan menghindari terbakarnya lampu ketika menerima power berlebih.
LED dengan tahanan chip regulator, kekuatan sinar untuk LED yang kuat tetapi lebih boros dan pemakaian lebih rendah.Berbeda dengan teknologi lampu sepeda dengan LED dan sirkuit board regulator. Umumnya dirancang untuk lampu berkekuatan tinggi, tetapi lebih boros baterai. Seperti lampu dengan kekuatan LED diatas 200 lumen akan memilih tahanan dalam bentuk chip regulator. Teknologi dengan chip regulator lebih menguntungkan bagi mereka yang membutuhkan lampu LED dengan terang lebih kuat. Input voltage lebih fleksibel dengan output DC konstan bagi LED. Pastinya input harus lebih besar dari output yang diperlukan oleh lampu LED yaitu diatas 3.7V.
Sirkuit board diperlukan untuk mengamankan arus ampere besar, dan menyesuaikan antara input besar dengan output DC secara konstan.
Keuntungan utamanya, bisa mengunakan baterai Li-Ion. Misalnya mengunakan baterai Li-Ion dengan power 8.4V , sementara input pada LED dibatasi sampai 3.7V DC. Maka chip regulator akan menahan power baterai dengan konstan dengan output 3.7V. Umumnya lampu LED yang memakai chip regulator memiliki cahaya lebih terang, bahkan mencapai 1000 lumen. Ketika kekuatan power baterai menurun, misalnya dari 8.4V, 7.0V, 6V dan seterusnya. Chip regulator tetap dapat memberikan output konstan 3.7V, sampai kekuatan baterai drop ke 3.7V dan chip akan memutuskan power pada kekuatan baterai 2.6V DC.
Apakah para Biker perlu mengunakan baterai Alkaline untuk sepeda. Tentu saja tidak, tetapi bila menginginkan kemampuan lampu sepeda jenis High Density LED dengan kekuatan maksimal. Dianjurkan mengunakan jenis baterai Alkaline memang lebih unggul.